## Langit yang Bergetar Saat Namamu Disebut Dulu, saat musim semi tiba, bunga persik bermekaran di sekitar Danau Bulan. Di sanalah, di bawah pohon rindang yang sama, kami berjanji. Aku, Lian Mei, dan dia, Kaisar Wu. Janji yang diukir di hati, bukan di batu. Janji untuk selalu bersama, selamanya. Sekarang, musim dingin mencengkeram istana. Salju turun seperti air mata dewa, membungkus semuanya dalam keputihan yang dingin dan mematikan. Dan Wu, Kaisar Wu yang dulu berjanji padaku, berdiri di depanku, di altar pernikahan. Bukan untukku. Pengantinnya, Permaisuri Lan, tersenyum angkuh. Senyum kemenangan yang menusuk jantungku seperti ribuan jarum. Wu menatapnya dengan tatapan yang dulu hanya untukku. Tatapan yang penuh *CINTA*. Dulu. Aku mencoba untuk tidak hancur. Aku mencoba untuk tidak berteriak. Aku mencoba untuk tetap tegak, meskipun kakiku terasa seperti akar yang tercabut dari tanah. Aku adalah Lian Mei, putri Jenderal Agung, bukan wanita lemah yang mudah dipatahkan. "Selamat, Yang Mulia," ucapku, suara setenang danau beku. Aku melihat kerut di dahi Wu. Sedikit. Hampir tidak terlihat. Tapi aku melihatnya. "Lian Mei…," bisiknya. Langit *BERGETAR*. Mungkin hanya perasaanku, atau mungkin alam semesta ikut merasakan sakitku. Aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa saat namanya keluar dari bibirnya, dunia seolah runtuh di sekitarku. Janji itu... ***DILANGGAR***. Aku mengingat malam itu, di bawah pohon persik, saat dia mengukir namaku di tangannya dengan pisau kecil. Darah menetes, bercampur dengan air mata kebahagiaan. Sekarang, darahku terasa membeku di nadiku. Kebahagiaan itu telah berubah menjadi racun yang membakar. Aku membungkuk hormat, memaksakan senyum tipis. "Saya turut berbahagia atas pernikahan Yang Mulia." Setelah upacara, aku berbalik dan berjalan pergi. Tanpa menoleh. Tanpa air mata. Aku akan menyimpan semuanya, semua sakit, semua kebencian, semua *PENYESALAN*. Beberapa bulan kemudian, Kaisar Wu tiba-tiba jatuh sakit. Penyakit aneh yang tidak bisa disembuhkan oleh tabib kerajaan manapun. Kekuatan tubuhnya terkuras, semangatnya padam. Permaisuri Lan meratap tiada henti. Aku, Lian Mei, dengan senyum yang tak bisa dibaca, mengunjunginya di pembaringan. Kubawa bersamaku secangkir teh herbal. Teh yang kunamakan **"Keabadian yang Tertunda"**. "Yang Mulia tampak lemah," kataku, dengan suara lembut yang dulu selalu membuat hatinya tenang. "Minumlah ini. Mungkin bisa membantu." Dia menatapku, matanya redup. "Lian Mei… maafkan aku." Aku tersenyum. Senyum yang tidak mengandung cinta, hanya pengampunan yang dingin. "Tidak ada yang perlu dimaafkan, Yang Mulia. Kita semua melakukan apa yang harus kita lakukan." Dia meminum teh itu. Perlahan. Habis tak bersisa. Kemudian, aku membungkuk hormat sekali lagi dan keluar dari kamarnya. Meninggalkannya dalam kegelapan yang abadi. Keadilan telah ditegakkan. Bukan olehku, tapi oleh takdir yang kejam. *Mungkin, di kehidupan selanjutnya, cinta kita akan menemukan jalannya, atau mungkin, kita ditakdirkan untuk saling menyakiti selamanya?*
You Might Also Like: 5 Rahasia Tafsir Memelihara Landak
