Cerita Populer: Aku Bersembunyi Di Balik Jas Mahal, Tapi Kau Melihat Hatiku Yang Hancur



**GEMA HATI YANG TERSEMBUNYI** Hujan menggigil membasahi Shanghai. Di bawah kerlip redup lampu-lampu kota, Lin Mei berdiri. Jas mahal berwarna arang membungkus tubuhnya, tapi dinginnya menusuk sampai ke tulang. Ia tahu, hujan ini adalah cerminan hatinya. Basah, sepi, dan penuh dengan kenangan yang seharusnya sudah lama terkubur. Lima tahun. Lima tahun sejak pengkhianatan itu menghancurkan dunianya. Lima tahun sejak senyum *cerah*nya digantikan tatapan dingin yang mengintimidasi. Di seberang jalan, di tengah kerumunan para tamu yang berpesta di sebuah hotel mewah, berdiri sosok yang dulu begitu dicintainya: Zhao Wei. Ia tampak sempurna dalam balutan tuksedo hitam, tawa renyahnya mengalun di udara malam. Tawa yang dulu hanya untuknya. Lin Mei mengepalkan tangannya. Bayangan dirinya dan Zhao Wei saat masih bersama – *bayangan yang bahagia* – terpantul di genangan air di bawah kakinya, hancur berkeping-keping bersamaan dengan riak yang ditimbulkan oleh tetesan hujan. Dulu, Zhao Wei adalah mataharinya. Ia adalah alasan Lin Mei bangun setiap pagi dengan semangat. Cinta mereka begitu *membara*, begitu *murni*. Lalu, pengkhianatan itu datang seperti petir di siang bolong, merenggut segalanya. Zhao Wei menikahi putri konglomerat demi menyelamatkan bisnis keluarganya yang bangkrut. Lin Mei ditinggalkan, *terluka dan terhina*. Ia menatap lentera merah yang nyaris padam di depan toko antik di dekatnya. Cahayanya berkedip-kedip, seolah berusaha sekuat tenaga untuk tetap menyala di tengah badai. Sama seperti dirinya. Ia telah membangun dirinya kembali dari abu, menjadi wanita yang kuat dan berpengaruh. Tapi di balik jas mahal dan tatapan dingin itu, hatinya masih hancur. Ia tersenyum pahit. Zhao Wei mengira ia sudah melupakannya, mengira ia hanya masa lalu yang terlupakan. Ia salah besar. Lin Mei telah menunggu. Ia telah merencanakan dengan sabar, langkah demi langkah, untuk membalas semua sakit hatinya. Perusahaan Zhao Wei, yang sekarang berada di puncak kesuksesan, adalah targetnya. Lin Mei telah menanam bibit kehancuran di sana, menunggu waktu yang tepat untuk memanennya. Malam semakin larut. Hujan semakin deras. Lin Mei melangkah maju, menyeberangi jalan menuju hotel mewah itu. Ia akan menghadiri pesta itu, bukan sebagai wanita yang terluka, tapi sebagai *MALAIKAT PEMBALAS*. Ia akan berdiri di hadapan Zhao Wei, menatap matanya, dan melihat ketakutan menjalar di sana. Sebelum ia memasuki pintu hotel, ia berhenti sejenak dan berbisik pada dirinya sendiri, "Semua ini terjadi karena ***dia***, bukan begitu?"
You Might Also Like: 89 Periodic Table Of Elements Groups

Post a Comment

Previous Post Next Post