Baiklah, ini dia cerita pendek dengan gaya dracin, lirih, dan penuh misteri: **Senyum yang Menyembunyikan Luka Tua** Embun pagi menyelimuti Danau Xi Hu, serupa kerudung sutra yang menyamarkan riak kesedihan. Di sebuah paviliun kecil, Lin Wei berdiri, memandang jauh ke arah cakrawala yang mulai memerah. Tangannya menggenggam erat jepit rambut perak berbentuk phoenix, satu-satunya peninggalan ibunya. Lima tahun telah berlalu sejak hari itu. Hari di mana ia menemukan Lu Chen, tunangannya, berpelukan mesra dengan Mei Lan, sahabatnya sendiri. Luka itu *menganga*, perihnya tak lekang dimakan waktu. Namun, Lin Wei memilih diam. Bukan karena ia lemah, melainkan karena ia tahu... **terlalu banyak**. Rahasia itu tersimpan rapat di balik senyum manisnya. Senyum yang kini menjadi topeng. Topeng yang dikenakannya di hadapan Lu Chen yang kini menjadi CEO perusahaan keluarga, dan Mei Lan yang kini menjadi nyonya Lu. "Wei, kau di sini lagi?" Suara Lu Chen memecah keheningan. Ia mendekat, tatapannya penuh kepalsuan yang Lin Wei sudah hafal luar kepala. "Udara pagi memang menyegarkan." Lin Wei tersenyum tipis. "Benar, Tuan Lu. Saya hanya ingin menikmati pemandangan." Lu Chen, tanpa sadar, telah memanggil luka itu dengan sebutan luka yang *teramat pedih*. Ia terus berusaha menggapai Lin Wei, walau Lin Wei terus menolak. Namun, ada yang aneh. Sejak beberapa bulan terakhir, Lu Chen tampak gelisah. Perusahaannya dilanda masalah keuangan. Kesalahan demi kesalahan kecil terus terjadi, seolah ada tangan tak terlihat yang menari-nari di balik layar. Mei Lan pun mulai curiga. Ia mendapati Lu Chen sering termenung, wajahnya pucat pasi. Suatu malam, Lin Wei menerima surat tanpa nama. Di dalamnya, tertulis satu kalimat: "Cari 'Mata Naga' di gudang lama." Gudang lama itu adalah tempat Lin Wei dan Lu Chen sering bermain di masa kecil. Dengan jantung berdebar, ia pergi ke sana. Di balik tumpukan peti tua, ia menemukan sebuah kotak kayu kecil. Di dalamnya terdapat sebuah buku catatan usang. Tulisan tangan di dalamnya... adalah tulisan tangan ayahnya. Ayah Lin Wei adalah seorang akuntan ulung yang bekerja untuk keluarga Lu. Dalam buku itu, ia mencatat semua kecurangan yang dilakukan oleh kakek Lu Chen, kecurangan yang membuat keluarga Lu menjadi kaya raya. Ayahnya dibunuh karena mengetahui kebenaran itu. Dan yang lebih mengejutkan, Lu Chen *tahu* tentang semua ini. Ia hanya berpura-pura tidak tahu. Lin Wei menggenggam erat buku itu. Rahasia yang selama ini ia simpan, kini menjadi senjata. Keesokan harinya, ia menyerahkan buku itu kepada pihak berwajib, tanpa menyebutkan namanya. Skandal keluarga Lu meledak. Lu Chen ditangkap, perusahaannya bangkrut. Mei Lan meninggalkannya. Di paviliun yang sama, Lin Wei kembali berdiri. Kali ini, embun pagi tidak terasa dingin. Ia tersenyum. Bukan senyum topeng, melainkan senyum tulus, meski ada setitik air mata yang menetes di pipinya. Takdir telah berbalik arah. Balas dendamnya hadir tanpa kekerasan, hanya kebenaran yang terungkap. Phoenix perak di rambutnya berkilauan tertimpa mentari. Ia berbalik, melangkah pergi, meninggalkan danau dan semua kenangan di belakangnya. _Dan angin berbisik, siapa yang sebenarnya lebih menderita, pengkhianat atau yang dikhianati?_
You Might Also Like: 105 Rekomendasi Sunscreen Mineral Lokal
