Baik, ini dia kisah 'Takdir yang Menulis Ulang Segalanya' dengan sentuhan intens dan dramatis: **TAKDIR YANG MENULIS ULANG SEGALANYA** Malam itu, salju turun seperti belati, menikam bumi dengan dingin yang menusuk tulang. Istana megah itu, yang dulunya saksi bisu kebahagiaan, kini berlumuran kesunyian. Darah, *merah pekat* bagai mawar yang layu, tercetak kontras di atas hamparan putih salju. Aroma dupa, yang dulu menenangkan, kini bercampur dengan bau anyir kematian, menciptakan simfoni memuakkan yang menusuk hidung. Di tengah aula yang remang-remang, berdiri Li Wei. Wajahnya bagai topeng batu, tak menunjukkan setitik pun emosi. Di kakinya, tergeletak tubuh Kaisar, ayah yang sekaligus penghancur hidupnya. Mata Kaisar, yang dulu memancarkan kekuasaan, kini kosong, menatap langit-langit istana yang menjulang tinggi. "Bertahun-tahun…" bisik Li Wei, suaranya serak dan nyaris tak terdengar. "Bertahun-tahun aku menunggu malam ini." Kilasan masa lalu menyerbu benaknya. Ia mengingat ibunya, seorang selir yang dicintai sekaligus dibuang oleh Kaisar. Ia ingat janji yang diucapkannya di atas abu kremasi ibunya: *PEMBALASAN*. Janji yang membakar hatinya selama bertahun-tahun, memberinya kekuatan untuk bertahan hidup di tengah intrik dan pengkhianatan istana. Ia menatap tangan yang berlumuran darah. Tangan yang sama yang dulu digenggam erat oleh ayahnya saat ia masih kecil. Tangan yang sama yang dulu memainkan pedang bersamanya di taman istana. Kebencian dan cinta, dua emosi yang saling bertentangan, berperang sengit di dalam hatinya. Di sudut ruangan, berdiri Mei Lan, wanita yang dicintainya sekaligus wanita yang mengkhianatinya. Air mata mengalir di antara asap dupa yang mengepul, membasahi wajahnya yang pucat pasi. Ia tahu, malam ini bukan hanya akhir dari kekaisaran, tetapi juga akhir dari kisah cinta mereka. "Mengapa?" tanya Mei Lan, suaranya bergetar. "Mengapa kau melakukan ini?" Li Wei menatapnya dengan tatapan sedingin es. "Kau tahu jawabannya, Mei Lan. Rahasia yang selama ini kita simpan, akhirnya terbongkar. Kau adalah *putri* dari Jenderal yang mengkhianati negaraku. Darah pengkhianat mengalir di nadimu." Mei Lan terisak. "Aku tidak tahu! Aku baru mengetahuinya beberapa bulan yang lalu! Aku mencintaimu, Li Wei. Demi Tuhan, percayalah padaku!" Li Wei tertawa sinis. "Cinta? Cinta adalah kebohongan terbesar di dunia ini. Cinta adalah racun yang melumpuhkan akal sehat. Aku tidak akan terjebak dalam ilusi itu lagi." Ia mendekati Mei Lan, menghunuskan pedangnya. Mei Lan memejamkan mata, pasrah menerima takdirnya. Namun, pedang itu tidak mengenainya. Li Wei hanya memotong seutas kalung yang melingkar di leher Mei Lan. Kalung itu, yang merupakan simbol kekaisaran terdahulu, jatuh ke lantai dengan bunyi gemerincing yang memekakkan telinga. "Pergilah," kata Li Wei, suaranya dingin. "Pergilah dan jangan pernah kembali. Mulai saat ini, kau bukan lagi bagian dari hidupku." Mei Lan membuka matanya, menatap Li Wei dengan tatapan penuh kesedihan. Ia berbalik dan berlari meninggalkan istana, menghilang di tengah badai salju. Li Wei menatap mayat ayahnya. Ia telah membalas dendam. Ia telah menepati janjinya. Namun, kemenangan ini terasa pahit. Hatinya hancur, lebih hancur dari istana yang kini menjadi saksi bisu kehancurannya. Balas dendam telah ditunaikan. Bukan dengan jeritan atau tangisan, melainkan dengan *KEDIAMAN* yang menusuk, sebuah keheningan yang lebih memekakkan daripada dentuman meriam. Di kejauhan, terdengar lolongan serigala, seolah meratapi akhir dari sebuah era. Li Wei berdiri di tengah aula yang berlumuran darah, seorang diri, menguasai takhta yang direnggut dengan harga yang sangat mahal. Di balik tatapan matanya yang kosong, tersembunyi sebuah rahasia yang lebih gelap, sebuah rencana yang lebih mengerikan, yang akan membuat seluruh dunia gemetar… ***Dan saat fajar menyingsing, Li Wei tersenyum tipis, tahu bahwa inilah awal dari permainan yang sebenarnya.***
You Might Also Like: 106 Funny Cat Meme Gifs And Exclusive
