Hujan menggigil di atas atap Istana Giok. Setiap tetesnya adalah bisikan masa lalu, gema tawa yang kini berubah menjadi isak tangis. Di kamarnya yang sunyi, Permaisuri Lianhua duduk bersimpuh, tinta hitam menari-nari di atas kertas putih. Sebuah surat cinta, ya, surat cinta. Namun, di balik aroma melati yang disemprotkan di atasnya, terselip pahitnya arsenik. Lima belas tahun lalu, senyum Pangeran Wei bagaikan mentari pagi, menghangatkan relung hatinya yang paling beku. Mereka berjanji sehidup semati di bawah pohon sakura yang sedang bermekaran. Namun, janji itu hancur berkeping-keping ketika Lianhua dituduh berkhianat, difitnah mencuri permata kekaisaran, dan Wei, sang pangeran pujaannya, *diam membisu*. Kini, Wei adalah Kaisar, duduk di singgasana yang dibangun di atas puing-puing kepercayaannya. Setiap kali mata mereka bertemu di aula istana, Lianhua merasakan bayangan masa lalu menghantuinya. Bayangan yang patah, seperti ranting sakura yang dipangkas paksa. Wei selalu memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan: penyesalan? Kebencian? Atau mungkin… cinta yang tak terucap? Cahaya lentera di kamarnya nyaris padam, berkedip-kedip seperti harapan yang sekarat. Lianhua menggenggam botol porselen kecil berisi racun itu. Tangannya bergetar. Ia membayangkan wajah Wei saat membaca surat cintanya, membayangkan senyumnya memudar ketika racun itu membakar kerongkongannya. Balas dendam memang terasa manis, namun hampa. Ia menulis, tangannya gemetar. Setiap kata adalah simfoni kesedihan dan amarah. Ia mencurahkan semua luka, semua pengkhianatan, semua mimpi yang dirampas darinya. Surat itu adalah elegi untuk cinta yang mati dan janji yang dilanggar. Akhirnya, ia selesai. Hatinya berdebar kencang. Ia tahu ini gila, ia tahu ini salah. Tapi, ia tidak bisa menghentikan dirinya. Ia mengirimkan surat itu bersama seorang kasim kepercayaan, dengan pesan khusus untuk menyerahkannya langsung ke tangan Kaisar. Malam itu, Istana Giok dilanda keheningan yang mencekam. Lianhua menunggu, jantungnya berpacu. Ia membayangkan Wei membaca suratnya, menelan racunnya, dan akhirnya... *meninggal*. Keesokan harinya, kasim itu kembali dengan wajah pucat. "Permaisuri," bisiknya, "Kaisar... Kaisar **tidak** membaca surat itu. Beliau menyerahkannya kepada… **ibunda Anda**." Lianhua membeku. Ibunya? Ibunya sudah meninggal dunia *lima belas tahun lalu*. Atau, setidaknya, itulah yang selama ini diyakininya. Dan kemudian, sebuah kalimat menggantung di udara, menghantui pikirannya, mengungkap misteri besar yang tersembunyi di balik tabir kesunyian: *Ternyata, bukan permata kekaisaran yang dicuri, melainkan… identitas.*
You Might Also Like: 7 Fakta Tafsir Menangkap Lutung Jangan