Drama Baru! Takhta Yang Retak Oleh Doa Terakhir



Baiklah, ini dia kisah puitis bergaya dracin klasik berjudul 'Takhta yang Retak oleh Doa Terakhir': **Takhta yang Retak oleh Doa Terakhir** Kabut perak menari di atas Danau Bulan Sabit, serupa kerudung pengantin yang tak pernah tiba. Di tepi danau itu, berdiri Paviliun Anggrek yang terlupakan, pilar-pilarnya dipenuhi lumut, saksi bisu *CINTA* yang tak terucap. Di sanalah, Putri Lianhua melukis. Lukisannya bukan sekadar kanvas, melainkan cermin jiwanya. Setiap sapuan kuasnya adalah rindu yang membara, setiap warna adalah bisikan doa. Dalam lukisannya, hadir seorang pangeran. Bukan pangeran dari kerajaan manapun di dunia nyata, melainkan pangeran dari *ALAM MIMPI*, Pangeran Xinghe. Pangeran Xinghe hanya ada dalam lukisan, dalam benak Lianhua. Wajahnya seindah rembulan, senyumnya seteduh embun pagi, matanya sedalam samudra mimpi. Mereka bertemu di sana, di dunia lukisan, di mana waktu berhenti dan cinta bertumbuh subur bagai bunga teratai di tengah lumpur. Lianhua tahu, cintanya ini terlarang. Ayahnya, Kaisar Agung, menjanjikannya pada panglima perang yang kejam dan ambisius, Jenderal Kui. Pernikahan ini demi perdamaian, demi stabilitas kerajaan. Namun, hati Lianhua telah terkunci untuk Pangeran Xinghe. Malam demi malam, Lianhua melukis. Ia mencurahkan seluruh hatinya, seluruh harapannya, seluruh *KESEDIHANNYA* ke dalam lukisan itu. Ia menciptakan dunia untuk mereka berdua, dunia di mana mereka bisa berbahagia, dunia di mana tak ada kekangan, tak ada kewajiban. Suatu hari, lukisan itu selesai. Lianhua menatapnya dengan air mata berlinang. Pangeran Xinghe tersenyum padanya, tangannya terulur, seolah ingin menariknya masuk ke dalam lukisan. "Aku menunggumu, Lianhua," bisik Pangeran Xinghe dari dalam lukisan. Lianhua terpejam. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh kanvas dingin. Tiba-tiba, sebuah suara keras memecah keheningan. "Lianhua!" Jenderal Kui berdiri di ambang pintu paviliun, matanya berkilat marah. Ia tahu rahasia Lianhua, ia tahu tentang Pangeran Xinghe. Ia cemburu, *MURKA* karena cinta Lianhua bukan untuknya. Kui mencabut pedangnya. Ia mengayunkannya, menghancurkan lukisan itu. Lianhua menjerit. Saat lukisan itu robek, terjadi keajaiban. Pangeran Xinghe keluar dari lukisan! Namun, wujudnya tidak sempurna, ia tampak rapuh, seolah terbuat dari cahaya bulan yang memudar. "Aku datang untukmu, Lianhua," ucap Pangeran Xinghe dengan suara lemah. Tapi kemudian, *MISTERI* terpecahkan. Kui, dengan tatapan dingin, berkata, "Kau sungguh bodoh, Lianhua. Pangeran Xinghe itu… dia adalah ilusi yang diciptakan *KAU SENDIRI*! Dia adalah bagian dari dirimu yang ingin kau selamatkan. Dia adalah… **BAYANGANMU!**" Pangeran Xinghe, ilusi yang selama ini menjadi tambatan hatinya, ternyata hanya cerminan dari kerinduannya, dari ketidakberdayaannya. Lianhua terhuyung. Seluruh dunianya runtuh. Pangeran Xinghe, dengan senyum pahit, menatap Lianhua. Kemudian, ia menghilang, kembali menjadi debu lukisan yang berhamburan di udara. Lianhua meraih serpihan lukisan itu, memeluknya erat. Hatinya hancur berkeping-keping, lebih sakit dari luka pedang manapun. Keindahan itu telah pergi, meninggalkan luka yang abadi. *Dan kemudian, di tengah heningnya malam, terdengar bisikan lirih dari masa lalu: "Ingatlah, Lianhua, cinta sejati… ada di dalam dirimu sendiri..."*
You Might Also Like: Exploring Potential Of Quantum

Post a Comment

Previous Post Next Post