## Bayangan yang Mengikuti Langkahku Dunia ini sepotong _kode rusak_, pikir Nara, setiap kali sinyal Wi-Fi putus asa berkedip di pojok ponselnya. Ia hidup di tahun 2347, era ketika hujan asam terasa seperti air mata robot dan matahari adalah mitos usang. Cinta? Konsep kuno yang hanya muncul di *meme* sejarah. Sampai ia menemukan fragmen chat lawas di server publik. “... dan di sini, di bawah langit yang masih ingat warna biru, aku menunggu,” tulis seseorang bernama Senja. Senja. Nama yang menggelitik sarafnya seperti nada dering lawas. Nara terobsesi. Ia membalas, meskipun tahu pesannya hanya akan menguap di lorong waktu digital. “Siapa yang kau tunggu, Senja? Apakah dia masih ingat cara tertawa?” Ajaibnya, balasan datang. Terputus-putus, seperti denyut jantung yang sekarat. “Dia. Ia **TERKUTUK** mengikuti bayanganku. Di setiap senja, aku melihatnya. Tapi ia tak pernah mendekat. Terjebak di suatu tempat di antara pagi dan malam.” Senja hidup di tahun 1998. Era ketika ponsel adalah batu bata dan cinta, konon, terasa seperti *kembang api*. Ia menunggu kekasihnya, Arsa, yang menghilang di malam badai. Arsa yang janji akan selalu ada, bahkan sebagai bayangan. Senja terus mengirim pesan. Nara terus membalas. Terbentuklah simpul aneh, sebuah *hubungan glitch* yang melintasi waktu. Nara menceritakan padanya tentang langit neon dan makanan sintetik. Senja bercerita tentang kaset rusak dan ciuman di bawah pohon sakura. Mereka saling jatuh cinta, pada kata-kata yang terjalin seperti benang kusut. Namun, ada yang aneh. Semakin dalam Nara menelusuri data tentang Senja, semakin banyak *anomali* yang ia temukan. Foto-foto Senja selalu buram. Catatan kriminal menunjukkan namanya terhubung dengan kasus pembunuhan yang tak terpecahkan. Dan yang paling aneh… tidak ada catatan kelahiran atas nama Senja di tahun 1998. Sampai akhirnya, Nara menemukan file audio terakhir di server pribadi milik Senja. Sebuah pengakuan. “Aku bukan Senja. Aku… Arsa. Aku mengalami *kecelakaan*, Nara. Aku meninggal di malam itu. Tapi jiwaku… jiwaku terfragmentasi. Terjebak di antara masa lalu dan masa depan. Senja hanyalah proyeksi dari kerinduanku yang abadi. Aku ingin dicintai. Aku **BUTUH** dicintai.” Nara terdiam. Jadi, cintanya pada Senja… cintanya pada Arsa… hanyalah *gema*, sebuah *loop* tanpa akhir yang diciptakan oleh jiwa yang putus asa. Ia menatap langit neon yang redup. Ia merasa ada yang menyentuh pundaknya. Dingin. Familiar. *Selamat tinggal, Nara. Waktunya untuk mengulang…*
You Might Also Like: Kisah Populer Air Mata Yang Menjadi
