Oke, inilah kisah pendek yang kamu minta, terinspirasi dari tema dracin yang kamu sebutkan, dengan sentuhan yang lebih puitis dan penekanan emosional: **Jejak Hujan di Atas Luka Lama** Hujan menggigil di kota Shanghai malam itu. Setiap tetesnya terasa seperti jarum yang menusuk kulit, mengingatkanku pada malam itu… malam *PENGHIANATAN*. Di balik jendela kaca sebuah kafe remang-remang, aku melihatnya. Li Wei. Wajahnya masih sama. Anggun, dengan mata yang dulu selalu menatapku penuh cinta. Cinta yang kini terasa bagai debu di bawah telapak kaki. Dulu, dia berjanji selamanya, tapi kemudian memilih ambisi, memilih *DIA*, dan meninggalkanku dengan hati yang hancur berkeping-keping. Kau bilang kita tak boleh bertemu, Li Wei. Tapi takdir, atau mungkin karma, terus mempertemukan kita. Bayanganku memanjang dan patah di lantai kafe, serupa dengan hatiku yang dulu. Cahaya lentera di meja kami nyaris padam, seolah menyiratkan harapan yang semakin menipis. Ia duduk di sana, bersama seorang pria yang jelas lebih tua, lebih berkuasa. Pria yang telah merebut segalanya dariku. Kami bertatapan. Matanya memancarkan penyesalan… ataukah itu hanya pantulan cahaya lampu? Aku tidak tahu. Aku tidak peduli. Dulu, aku mencintainya lebih dari hidupku sendiri. Aku rela memberikan segalanya untuknya. Tapi dia, dengan teganya mengkhianati cintaku, meremukkan semua impianku. Selama bertahun-tahun aku menyimpan dendam ini. Dendam yang kini akan segera terbalaskan. Setiap malam aku memimpikan saat ini. Saat aku berdiri di hadapannya, bukan sebagai pria yang patah hati, tapi sebagai orang yang memegang kendali. Aku telah merencanakan semuanya dengan cermat. Selangkah demi selangkah, aku telah menyingkirkan semua rintangan. Aku telah membangun kembali diriku, lebih kuat, lebih kejam. Dia mendekatiku. "Zhao Ming…" bisiknya lirih, seolah takut didengar orang lain. Suaranya masih terasa sama. Manis, namun kini beracun. Aku tersenyum sinis. "Li Wei… senangnya bertemu denganmu lagi." "Aku… aku minta maaf," ucapnya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Maaf?" Aku tertawa hambar. "Apakah permintaan maafmu bisa mengembalikan semua yang telah kau ambil dariku? Apakah permintaan maafmu bisa menyembuhkan luka yang telah kau torehkan?" Aku mendekatinya, membisikkan sesuatu di telinganya. Sesuatu yang akan menghancurkan dunianya. Sesuatu yang telah aku simpan selama bertahun-tahun. "Semua penderitaanmu selama ini, Li Wei… semua kegagalanmu, semua kemalanganmu… *AKULAH* dalang di baliknya." Wajahnya pucat pasi. Matanya membulat sempurna, dipenuhi ketakutan dan keterkejutan. Dia mundur selangkah, seolah melihat hantu. Aku menatapnya dengan dingin. "Kau pikir kau bisa lari dari takdir? Kau salah. Takdir selalu punya cara untuk membalas semua perbuatanmu." Aku berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan dia yang terpaku di tempatnya. Hujan masih menggigil di luar. Dan aku tahu, badai yang sebenarnya baru saja akan dimulai. Pria tua itu… **DIA** bukanlah ayah Li Wei, melainkan…
You Might Also Like: 5 Rahasia Mimpi Disengat Rayap Jangan
