Dracin Seru: Aku Menjadi File Hilang Yang Masih Bisa Ia Rasakan



Oke, ini dia kisah pendek yang terinspirasi dari dracin "Aku Menjadi File Hilang Yang Masih Bisa Ia Rasakan," dengan sentuhan dan permintaan Anda: **Hujan Menggigil di Ingatan** Hujan menggigil membasahi atap genting, suara rintiknya beradu dengan degup jantungku yang tak karuan. Sudah lima tahun. Lima tahun sejak aku *menghilang*, sejak namaku terhapus dari bibirnya, sejak tatap matanya tak lagi mencari sosokku di keramaian. Aku, Ailin, kini hanya bayangan di sudut ingatannya, sebuah *file hilang* yang sesekali muncul saat aroma teh melati menguar atau ketika melodi piano yang dulu sering kumainkan terdengar sayup-sayup. Dulu, aku dan Jian, adalah satu. Cinta kami sehangat mentari pagi, sekuat akar pohon beringin. Kami berjanji akan menua bersama, berbagi suka dan duka hingga akhir hayat. Namun, janji itu hancur berkeping-keping seperti kaca yang terhempas badai. Pengkhianatan. Kata itu masih terasa pahit di lidahku. Aku melihatnya, dengan mata kepalaku sendiri, menggenggam tangan wanita lain, memberikan senyum yang dulu hanya untukku. Aku pergi. Meninggalkan semua yang kupunya, termasuk Jian. Bayangan lentera di beranda rumah Jian tampak **patah** diterpa angin. Cahayanya redup, nyaris padam. Sama seperti cintanya padaku, kurasa. Aku berdiri di kejauhan, tersembunyi di balik rimbunnya pohon sakura yang kini tengah meranggas. Dingin menusuk tulang, tapi lebih dingin lagi adalah *kenangan* yang menyeruak. Aku melihatnya keluar, mengenakan jaket yang dulu kubelikan untuknya. Tatapannya kosong, menatap nanar ke arah hujan. Aku tahu, jauh di lubuk hatinya, ia masih merasakan kehadiranku. Mungkin hanya sisa-sisa penyesalan, atau mungkin... rasa bersalah yang tak pernah bisa ia hapus. Selama lima tahun ini, aku hidup dalam kegelapan, mengumpulkan kekuatan, menyusun rencana. Aku menyaksikan Jian membangun kembali hidupnya, menikah dengan wanita itu, memiliki seorang anak. Semua tampak sempurna dari luar. Tapi aku tahu, di balik senyumnya yang dipaksakan, ada luka yang menganga. Aku tidak pernah memaafkannya. Setiap malam, aku mengirimkan surat tanpa nama ke rumahnya. Surat-surat berisi penggalan kenangan kami, kutipan puisi yang dulu sering kami baca bersama, dan foto-foto yang sengaja kuburamkan. Aku ingin ia tahu bahwa aku ada, bahwa aku masih *menghantuinya*. Aku ingin ia merasakan sakit yang kurasakan dulu. Malam ini, rencana terakhirku akan dieksekusi. Sebuah undangan pesta reuni SMA. Aku akan datang, dengan identitas baru, dengan wajah yang telah berubah. Aku akan menari dengannya, bercerita tentang hidupku yang "bahagia," dan kemudian... Aku akan mengungkap semua kebohongan yang selama ini kupendam. Saat aku berbalik, siap untuk melangkah menuju takdir yang telah kupersiapkan, sebuah suara memanggilku dari belakang. Suara yang sudah lama tak kudengar. "Ailin?" Aku membeku. Bagaimana mungkin? Jian berdiri di sana, di bawah *cahaya lentera yang nyaris padam*, dengan tatapan mata yang penuh dengan kesedihan dan... **KETERKEJUTAN!** Ia tahu. Ia selalu tahu. Rencana balas dendamku hancur berantakan. Air mata mengalir deras di pipiku. Aku bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang selama ini memanipulasi siapa, karena ternyata... *Surat-surat itu, bukan aku yang mengirimkannya.*
You Might Also Like: Rahasia Sunscreen Mineral Untuk Kulit

Post a Comment

Previous Post Next Post