Baiklah, inilah kisah pendek bergaya dracin berjudul 'Bayangan yang Menyimpan Nama yang Terlarang', dengan fokus pada nuansa yang Anda inginkan: **Bayangan yang Menyimpan Nama yang Terlarang** Di tengah taman **lampion** yang memancarkan cahaya keemasan di malam Kota Terlarang, berdiri Li Wei. Gaun sutra birunya berkilauan bak air danau yang tenang, menyembunyikan badai di dalam hatinya. Senyumnya, dulu adalah mentari bagi Qin Hao, kini hanya topeng. Lima tahun. Lima tahun ia mencintai Qin Hao, pangeran yang berjanji menjadikannya satu-satunya. Pelukannya terasa hangat, manis, ***melenakan***. Ia rela menyerahkan segalanya, bahkan harga dirinya, demi cinta itu. Namun, cinta Qin Hao rupanya setipis kertas. Janjinya hanyalah angin. Ia menikahi Putri Ming untuk memperkuat kekuasaan, meninggalkan Li Wei dalam kegelapan, dengan nama yang kini ***TERLARANG*** untuk diucapkan. Setiap tetes air mata yang jatuh adalah racun yang perlahan menggerogoti hatinya. Namun, Li Wei tidak menangis. Ia belajar menyembunyikan luka di balik senyum yang menipu, elegansi yang membuat iri para selir istana. Ia membangun kembali dirinya, bukan sebagai wanita yang ditinggalkan, tapi sebagai *seseorang* yang disegani. "Li Wei," sapa Qin Hao suatu malam, suaranya bergetar. Ia berdiri di depan paviliunnya, bayangannya memanjang di bawah rembulan. "Aku… aku tahu aku salah." Li Wei tersenyum. Senyum yang tidak mencapai matanya. "Kesalahan? Pangeran terlalu merendahkan diri. Bukankah ini semua demi kerajaan?" Qin Hao terdiam. Wajahnya pucat, tubuhnya gemetar. Putri Ming, istri yang ia nikahi demi kekuasaan, ternyata hanya membawa masalah dan intrik. Ia merindukan Li Wei, ketulusannya, cintanya yang murni. Tapi kini, yang tersisa hanyalah penyesalan yang abadi. Mata Li Wei menyipit. Inilah saatnya. Bukan darah yang ia inginkan, bukan siksaan fisik. Ia ingin menghancurkan hati Qin Hao, membuktikan bahwa pengkhianatan selalu berbuah pahit. "Pangeran," bisiknya, suaranya bagai belati dingin. "Tahukah Anda, setiap malam saya berdoa agar Anda bahagia. Bahagia dengan pilihan Anda. Bahagia dengan kekuasaan Anda. Bahagia... **SECARA ABADI** merindukan cinta yang Anda buang." Qin Hao menatapnya, air mata mengalir di pipinya. Ia mengerti. Ia telah kehilangan segalanya. Kebahagiaan, cinta, dan Li Wei. Li Wei berbalik, meninggalkan Qin Hao dalam kegelapan. Ia tahu, di balik senyumnya, ada luka yang akan selalu menganga. Tapi, balas dendam ini terasa *begitu* manis. Di kejauhan, suara seruling bergema, melantunkan nada yang menyayat hati. Li Wei menutup matanya. Cinta dan dendam, bukankah keduanya lahir dari tempat yang sama?
You Might Also Like: 188 Inspirasi Produk Skincare Lokal
