**Bayangan yang Membisikkan Nama di Tidurku** Di antara tirai sutra senja yang berlumur keemasan, tersembunyi sebuah taman **terlupakan**. Bunga sakura menangiskan kelopak-kelopak merah jambu, seolah mengantar kepergian mimpi. Di sanalah, aku pertama kali melihatnya. Siluetnya, selembut kabut yang melayang di atas Danau Bulan Sabit, **bayangan** yang menari di pelataran hatiku. Rambutnya bagai air terjun malam, mengalir tanpa henti, menutupi wajahnya yang bagai lukisan porselen yang retak. Bibirnya, seulas senyum tersembunyi, janji **rahasia** yang tak terucap. Matanya… dua bintang redup yang memendam galaksi rindu. Ia tak pernah bicara padaku, hanya berdiri di sana, di ambang kenyataan dan ilusi. Malam demi malam, ia datang dalam tidurku. Di alam mimpi yang dihiasi lentera-lentera **berhantu**, ia membisikkan sebuah nama… nama yang asing namun terasa begitu familiar, begitu dekat namun tak terjangkau. *”Yun’xi…”* Aku terbangun dengan jantung berdebar, nama itu terukir di benakku bagai tato yang tak bisa dihapus. Aku mencari Yun’xi di dunia nyata, menjelajahi lorong-lorong waktu yang berdebu, menelusuri jejak-jejak sejarah yang memudar. Apakah ia nyata? Apakah ia hanya fragmen dari imajinasiku yang liar? Lukisan-lukisan kuno di paviliun terpencil, puisi-puisi usang yang ditulis di atas kertas beras rapuh… semua seolah menunjuk pada satu sosok: Yun’xi, sang putri yang hilang, putri dari Dinasti Bayangan yang jatuh. Dikatakan bahwa ia memiliki kecantikan abadi, namun cintanya terlarang, cintanya pada seorang prajurit pemberontak yang dikhianati dan dibunuh. Akhirnya, aku menemukan petunjuk terakhir di sebuah kuil yang tersembunyi di puncak Gunung Jade. Di sana, terukir di sebuah batu nisan, sebuah nama dan sebuah tanggal. Yun’xi, meninggal pada malam pernikahannya, menunggu kekasihnya yang tak pernah datang. Di bawahnya, terukir sebuah kalimat: *”Cinta adalah **SUMPAH** yang mengikat jiwa hingga akhir zaman…”* Saat itulah aku mengerti. Bayangan yang membisikkan nama di tidurku bukanlah hantu, bukan pula ilusi. Ia adalah *gema*, jejak energi dari cinta yang begitu kuat, cinta yang melampaui batas waktu dan kematian. Yun’xi memanggilku, bukan untuk membalas dendam, tapi untuk **MENEMUKAN** cinta yang telah hilang. Momen pengungkapan itu bagai pisau bermata dua. Misteri terpecahkan, namun keindahan kisah itu justru membuat luka di hatiku terasa semakin dalam. Aku adalah reinkarnasi dari prajurit pemberontak itu. Aku telah menemukan Yun’xi, tapi aku terlambat. Selamanya terlambat. Dan kini, di saat senja menyelimuti taman terlupakan, aku mendengar bisikan lagi, lebih jelas dari sebelumnya… *"Jangan lupakan janji kita…"*.
You Might Also Like: 122 Kelebihan Pelembab Ringan Lokal
