Baiklah, ini dia kisah puitis bergaya dracin klasik berjudul 'Janji yang Menjadi Doa Terlarang': **Janji yang Menjadi Doa Terlarang** Kabut lembayung menyelimuti Paviliun Bulan, aroma *osmanthus* menyeruak, menyelinap ke dalam mimpi-mimpi yang terlarang. Di sanalah, dalam lukisan usang yang tergantung di dinding berlumut, ia pertama kali melihatnya. Gadis itu, Bai Lian, terlukis dengan anggun. Matanya, danau safir yang memantulkan *seribu purnama*. Bibirnya, kuncup mawar yang belum merekah sempurna. Ia adalah keindahan yang abadi, terperangkap dalam bingkai waktu yang membeku. Pangeran Yu, yang terbuang karena garis keturunannya yang dianggap terkutuk, menemukan kedamaian dalam lukisan itu. Setiap malam, ia berbicara pada Bai Lian, mencurahkan isi hatinya yang *sunyi senyap*. Ia merasa, Bai Lian mendengarkan, memahami setiap bisikan jiwanya. "Kau adalah harapan yang tak mungkin, Bai Lian. Cahaya di ujung lorong keputusasaan," bisiknya suatu malam, di bawah rembulan yang pucat. Suatu hari, keajaiban terjadi. Atau mungkin, ilusi yang terlalu kuat menancap dalam benaknya. Bai Lian, dari dalam lukisan, *mengulurkan tangannya*. Jari-jari halusnya menyentuh pipi Pangeran Yu. "Yu... aku menunggumu," bisiknya, suaranya bagai *gemericik air di musim semi*. Mereka bertemu setiap malam. Cinta mereka tumbuh, mekar di antara dimensi. Pangeran Yu tahu, ini terlarang. Cinta antara manusia dan lukisan, antara dunia nyata dan alam mimpi, adalah dosa yang tak terampunkan. Namun, ia tak peduli. Bagi Pangeran Yu, Bai Lian adalah *seluruh dunianya*. Suatu malam, Bai Lian tampak muram. "Waktuku semakin menipis, Yu. Kutukan akan segera memisahkan kita." Pangeran Yu terkejut. "Kutukan? Apa maksudmu?" Bai Lian menjelaskan. Ia bukanlah gadis biasa yang terlukis. Ia adalah arwah seorang putri yang dikutuk untuk selamanya terperangkap dalam lukisan, menunggu seseorang yang tulus mencintainya. Jika ia menemukan cinta sejati, kutukan itu akan lenyap, namun ia juga akan lenyap bersamanya. Pangeran Yu terdiam. Ia mencintai Bai Lian lebih dari apapun. Namun, ia tak ingin menjadi penyebab kepergiannya. "Aku... aku tidak bisa," bisiknya, air mata membasahi pipinya. Bai Lian tersenyum lembut. "Aku tahu, Yu. Aku selalu tahu." Malam itu, Paviliun Bulan dipenuhi cahaya keemasan. Lukisan Bai Lian memudar, perlahan menghilang. Pangeran Yu hanya bisa memeluk kekosongan. **Pengungkapan itu datang bak petir di siang bolong.** Di balik lukisan Bai Lian, ia menemukan sebuah surat. Ditulis dengan tinta yang telah pudar, namun kata-katanya masih jelas terukir: _"Kepada Pangeran Yu, yang akan menemukan lukisan ini. Aku, ibumu, Putri Bulan, mengutuk diriku sendiri untuk melindungi dirimu. Lukisan ini adalah ilusi yang kuciptakan, agar kau tidak kesepian. Bai Lian adalah bagian dari diriku, cinta yang tak pernah bisa kuungkapkan. Maafkan aku, anakku. Aku mencintaimu, selamanya."_ Pangeran Yu berlutut, hatinya hancur berkeping-keping. Cinta yang ia cari, cinta yang ia kira nyata, ternyata hanya ilusi dari *seorang ibu yang berkorban segalanya*. Keindahan itu, justru menggores luka yang *tak tersembuhkan*. Di kejauhan, angin berbisik: *“Jangan pernah lupakan janji kita...”*
You Might Also Like: 0895403292432 Peluang Bisnis Skincare_02031128351
