Rahasia yang Terkubur di Antara Dua Makam
Kabut tebal menyelimuti Lembah Bulan Sabit, tempat di mana dua makam berjajar sunyi. Di sanalah kisah Lin Wei dan Jiang Feng berawal, kisah yang diukir di atas persahabatan, dikhianati oleh ambisi, dan diakhiri oleh dendam yang membara.
Lin Wei, dengan mata setajam elang dan senyum semanis madu, adalah pewaris tunggal Klan Pedang Langit. Jiang Feng, si anak yatim piatu yang ditemukan Lin Wei saat badai salju, tumbuh besar di sisinya, menjadi tangan kanannya, saudara seperguruan yang tak terpisahkan. "Kau adalah cahayaku, Wei," bisik Jiang Feng suatu malam di bawah rembulan, tangannya menggenggam erat tangan Lin Wei. "Tanpamu, aku hanyalah debu."
Namun, debu ternyata bisa menutupi berlian.
Rahasia terkubur dalam-dalam di antara mereka. Rahasia yang melibatkan kematian orang tua Lin Wei, pengkhianatan di dalam klan, dan gulungan kuno yang konon bisa memberikan kekuatan abadi. Gulungan yang diinginkan semua orang.
"Apakah kau mengingat malam itu, Feng?" tanya Lin Wei suatu sore, duduk di tepi tebing. Angin bertiup kencang, menerbangkan helai rambutnya. "Malam ketika ayahku... meninggal?"
Jiang Feng terdiam. Ekspresinya sedatar batu. "Aku ingat. Malam yang gelap. Kau pasti sangat terpukul."
Namun, matanya menyiratkan hal lain. Sebuah kilatan yang hanya bisa dilihat oleh orang yang sudah lama mengenal. Lin Wei sudah lama mencurigai. Kecurigaan yang kini menggerogoti hatinya seperti karat.
Perlahan, misteri terkuak. Potongan-potongan puzzle berserakan: surat rahasia yang ditemukan di balik lukisan, saksi mata yang ketakutan, dan yang terpenting, hilangnya gulungan kuno. Semua mengarah pada satu nama: Jiang Feng.
"Kau... KAU YANG MENGKHIANATI KAMI SEMUA?!" Lin Wei berteriak di tengah badai petir, pedangnya terhunus, siap menebas.
Jiang Feng tertawa. Tawa yang dingin, tanpa kehangatan sedikit pun. "Pengkhianatan? Tidak, Wei. Ini adalah keadilan. Ayahmu... dia pantas mati. Dia menghancurkan keluargaku, merebut segalanya dariku!"
Pertarungan pun pecah. Pedang beradu, kilat menyambar, dan dendam mengalir deras. Lin Wei, dengan segenap amarah dan kesedihan, melawan Jiang Feng yang kini memiliki kekuatan gulungan kuno. Namun, kekuatan itu tidak bisa mengalahkan hati yang terluka.
Akhirnya, dengan satu tebasan yang mematikan, Lin Wei berhasil melukai Jiang Feng. Jiang Feng tersungkur, darah mengalir dari lukanya.
"Kenapa, Feng? Kenapa kau lakukan ini?" tanya Lin Wei, suaranya bergetar.
Jiang Feng tersenyum pahit. "Aku... selalu menginginkan apa yang kau miliki, Wei. Segalanya. Keluarga, kekuatan, cinta. Tapi... aku salah. Cinta itu... tidak bisa dipaksakan."
Lin Wei menatapnya, air mata mengalir di pipinya. "Kau... bukan saudaraku lagi."
Jiang Feng terbatuk, darah muncrat dari mulutnya. Di detik-detik terakhir hidupnya, dia meraih tangan Lin Wei. "Wei... aku... maafkan aku..."
Kemudian, dia menghembuskan nafas terakhir.
Lin Wei berdiri di sana, di antara dua makam. Satu milik ayahnya, satu lagi milik Jiang Feng. Dua makam yang kini menjadi saksi bisu sebuah persahabatan yang hancur, sebuah rahasia yang terkubur, dan dendam yang tak terhindarkan.
Sebelum dia memejamkan mata untuk selamanya di samping dua makam itu, dia berbisik, "Semua itu... untuk apa?"
You Might Also Like: Rahasia Dibalik Arti Mimpi Menerima