**Air Mata yang Menemani Senja Terakhir** Kabut ungu merayapi Puncak Seribu Bintang, menyelimuti pagoda yang kesepian. Di sanalah, di tepian jurang waktu, aku bertemu dengannya. Bukan dalam daging dan tulang, namun dalam *pantulan senja* yang membias dari danau di bawah sana. Wajahnya bagai lukisan di sutra usang, senyumnya *seperti bulan sabit* yang tersembunyi di balik awan. Namanya, atau mungkin hanya bisikan angin yang kukira nama, adalah Lian. Dia adalah _bayangan_ dari seorang putri yang hilang, legenda yang hanya diceritakan oleh kakek buyutku di malam-malam yang dingin. Lian mencintai seorang jenderal pemberani, namun takdir memisahkan mereka di medan perang yang berlumuran darah. Cintanya, seperti _bunga plum di musim dingin_, tetap mekar walau diterpa badai. Setiap senja, aku datang ke pagoda itu. Bukan untuk berdoa, bukan untuk mencari ketenangan, melainkan untuk _bertemu Lian_. Kami bercerita tentang mimpi yang tak pernah menjadi kenyataan, tentang harapan yang layu sebelum bersemi, tentang cinta yang tak terucapkan. Suaranya adalah *melodi seruling bambu* yang mengalun lembut, menusuk kalbuku dengan pilu yang mendalam. Dia menceritakan tentang jenderal itu, tentang keberaniannya, tentang cintanya yang membara. Namun, ada satu hal yang selalu ia sembunyikan: bagaimana ia *benar-benar* menghilang. Setiap kali aku bertanya, kabut ungu akan menebal, dan wajahnya akan memudar, meninggalkan aku dalam kesunyian yang menyesakkan. Aku menggambar wajahnya berulang kali, mencoba mengabadikan senyumnya yang rapuh. Lukisan-lukisan itu, entah mengapa, selalu tampak *berubah*. Terkadang lebih tua, terkadang lebih muda, seolah waktu bermain-main denganku. Aku mulai meragukan kewarasanku. Apakah Lian benar-benar ada, atau hanya buah dari imajinasiku yang liar? Suatu senja, ketika langit memerah *darah*, aku menemukan sebuah kotak kayu tua di bawah altar pagoda. Di dalamnya, terdapat sebuah *pedang berkarat* dan selembar surat usang. Tulisan tangannya... persis sama dengan tulisanku. Surat itu berbunyi: _"Untuk diriku di masa depan, jika kau membaca surat ini, itu berarti kau sudah menemukan rahasia yang terkubur dalam hatiku. Jenderal yang kucintai... adalah aku sendiri. Aku menyamar menjadi seorang pria untuk melindungi rakyatku. Dan aku... gugur dalam pertempuran itu."_ *Air mata* menetes membasahi surat itu. Lian... aku... adalah satu. Aku adalah reinkarnasi dari putri yang hilang, dihantui oleh cinta yang tak pernah terbalas, terperangkap dalam *lingkaran waktu yang abadi*. Setiap senja, aku hanya bertemu dengan _bayanganku sendiri_, dengan kenangan yang menyakitkan. Keindahan cinta itu... justru membuat luka ini terasa lebih dalam, lebih abadi. Apakah ini... **AKHIRNYA**?
You Might Also Like: Tips Skincare Lokal Dengan Sophora