Ini Baru Cerita! Bayangan Yang Menulis Namamu Di Luka



Baiklah, inilah kisah dracin pendek yang Anda minta, berjudul 'Bayangan yang Menulis Namamu di Luka': **Bayangan yang Menulis Namamu di Luka** Lorong istana berbisik dalam sunyi. Ukiran naga dan phoenix, seolah hidup di bawah rembulan pucat, menyaksikan langkah kaki **Ziling**, sosok yang dikabarkan tenggelam sepuluh tahun lalu di Danau Bulan Sabit. Jubahnya basah, bukan oleh air danau, melainkan oleh kabut pegunungan yang melilitinya seperti kain kafan. Di ujung lorong, di Balairung Kaca yang megah, berdiri **Permaisuri Lian**. Wajahnya yang dulu penuh tawa kini terukir garis kesedihan. Sepasang matanya yang dulu berkilau, kini redup ditelan malam. "Ziling?" Suara Permaisuri lirih, nyaris tak terdengar. "Apa… benar itu kau?" Ziling membungkuk hormat, namun tatapannya dingin. "Permaisuri, saya kembali. Bukan sebagai Ziling yang dulu, tapi sebagai *bayangan* yang akan menagih janji." "Janji apa?" Permaisuri Lian mundur selangkah, raut wajahnya dipenuhi kebingungan dan ketakutan. "Janji darah. Janji pengkhianatan. Janji untuk melenyapkan saingan." Ziling melangkah maju, setiap langkahnya bergema di balairung yang sunyi. "Kau tahu betul apa yang kumaksud, *Lian*." Udara terasa membeku. Permaisuri Lian terhuyung, bersandar pada pilar giok. "Kau salah paham. Aku… aku tak pernah berniat mencelakaimu." "Benarkah? Lalu, siapa yang menyebarkan rumor tentang perselingkuhanku dengan Panglima Zhao?" Ziling menyeringai tipis. "Siapa yang 'tidak sengaja' menjatuhkan anggur beracun ke jubahku sebelum festival lampion? Siapa yang 'mencari' bukti bahwa aku berkhianat pada kekaisaran? *Jawab aku, Lian!*" Keheningan memerihkan. Hanya desah angin yang menerobos celah jendela, menyuarakan rahasia kelam. Permaisuri Lian menunduk, air mata mulai menetes membasahi gaun sutranya. "Aku… aku hanya mencintai Kaisar. Aku hanya ingin *melindunginya* dari pengaruhmu." Ziling tertawa hambar. "Melindunginya? Atau *menguasainya*? Kau pikir aku tidak tahu tentang rencana kudeta yang kau susun bersama Paman Zhao? Kau pikir aku tidak tahu bahwa kau sengaja membuatku 'mati' agar bisa meraih takhta permaisuri dan mengendalikan Kaisar yang lemah?" Permaisuri Lian mendongak, matanya berkilat marah. "Itu… itu demi kekaisaran! Aku hanya melakukan apa yang *harus* dilakukan!" Ziling mendekat, membisikkan sesuatu di telinga Permaisuri Lian. Kalimat itu begitu lirih, namun mampu membuat Permaisuri Lian terhuyung mundur, wajahnya pucat pasi. "Kau pikir aku korban? Oh, Lian… kau keliru. Aku memang tenggelam di Danau Bulan Sabit. Tapi sebelum itu, aku sudah menanam *benih keraguan* di hati Kaisar, tentang kesetiaanmu. Dia tahu segalanya. Dan sekarang, dia akan datang." Terdengar derap langkah kaki mendekat. Sosok Kaisar muncul di ambang pintu balairung, wajahnya keras dan dingin. Ia menatap Permaisuri Lian dengan tatapan yang belum pernah dilihatnya selama ini. Ziling tersenyum pahit. "Kau lupa, Lian. Aku selalu *selangkah lebih maju* darimu." Kaisar mengangkat tangannya, memberi isyarat kepada para pengawal. Permaisuri Lian berlutut, air matanya tumpah ruah. **"Namamu tertulis bukan di hatiku, melainkan di tiap luka yang kau ciptakan... dan sekarang, akulah yang akan menulis namamu di pusara pengkhianatan."**
You Might Also Like: Seru Sih Ini Air Mata Yang Menjadi

Post a Comment

Previous Post Next Post