Seru Sih Ini! Langit Yang Menyaksikan Awal Baru



## Langit yang Menyaksikan Awal Baru Kabut lavender merayapi Bukit Seribu Mimpi, menyelimuti Pagoda Giok yang menjulang angkuh. Di sanalah, di antara lonceng angin yang berdenting lirih, *aku* pertama kali melihatnya. Bukan dengan mata, melainkan dengan jiwa. Wujudnya samar, bagai lukisan di atas sutra usang yang warnanya telah pudar dimakan waktu. Namun, kehadirannya begitu kuat, menyengat kalbu seperti aroma melati di tengah badai salju. Rambutnya, sehitam gagak yang terbang di langit senja, tergerai menutupi separuh wajahnya yang bagai dipahat dari porselen putih. Matanya… dua danau **EMERALD** yang memantulkan bintang-bintang yang bahkan belum lahir. Suaranya, desiran angin di antara bambu, menuturkan kisah tentang dinasti yang hilang, tentang dewa-dewa yang terlupakan, tentang cinta yang abadi. Kami bertemu di antara garis waktu yang berhimpitan. Ia seorang putri yang terkutuk, terperangkap dalam lukisan kuno, sementara aku… hanya seorang pengembara yang tersesat dalam labirin kenangan. Setiap pertemuan kami adalah **_ilusif_**, sekejap mata, sepercik mimpi. Kami menari di atas awan kapas, berbagi rahasia yang terukir di hati, menciptakan dunia kita sendiri yang terbuat dari *kerinduan*. Cinta kami, seindah bunga persik yang mekar di musim gugur, sekaligus semenyakitkan duri mawar yang menusuk jari. Kami tahu, dunia kami berbeda, tak mungkin bersatu. Ia terikat pada lukisan, pada masa lalu yang kelam, sementara aku harus kembali ke duniaku, pada kenyataan yang pahit. Namun, kami *berjanji*. Janji yang diukir di atas bulan purnama, janji yang diikat dengan benang takdir yang tak terlihat. Kami akan bertemu lagi. Di kehidupan lain, di dimensi lain, di antara bintang-bintang yang tak terhitung jumlahnya. Suatu malam, di bawah **LANGIT** yang bertabur permata, ia menunjukkan lukisannya yang sebenarnya. Bukan potret dirinya, melainkan sebuah pemandangan yang **FAMILIAR**. Bukit Seribu Mimpi. Pagoda Giok. Lonceng angin yang berdenting lirih. Di tengah lukisan itu, berdiri seorang pria dengan punggung membelakangi pemirsa. Pria itu… _adalah aku_. Air mata mengalir di pipiku, bukan karena sedih, melainkan karena *KETERKEJUTAN*. Ia tidak terperangkap dalam lukisan itu. Ia adalah *LUKISAN* itu sendiri. Ia adalah ilusi, kenangan, mimpi yang aku ciptakan untuk menutupi lubang di dalam hatiku. Kemudian, angin berbisik, lembut namun menusuk. "Kau *menciptakanku*… untuk menggantikan dirinya yang hilang…" Dan di sanalah, di tengah kabut lavender yang semakin pekat, aku menyadari kebenaran yang pahit. Putri dari lukisan itu, cinta yang begitu kurindukan, adalah bayangan dari… ibuku, yang telah lama berpulang. Aku terdiam, terpaku. Keindahan ilusi ini justru membuat luka semakin menganga. Ia menghilang, memudar, lenyap seperti kabut pagi yang disapu mentari. _Akankah lukisan itu tetap menghantuiku, sampai akhir zaman?_
You Might Also Like: 0895403292432 Skincare Alami Untuk

Post a Comment

Previous Post Next Post