Tentu, ini dia kisah Dracin dengan sentuhan takdir, reinkarnasi, dan balas dendam yang pahit: **Tangisan yang Tak Lagi Memohon** Seratus tahun telah berlalu sejak Ling Yue tewas di tengah kobaran api yang membakar Istana Giok. Seratus tahun sejak janji terkutuk diucapkan, dan darah menodai kelopak bunga *mei* yang berjatuhan. Kini, ia terlahir kembali sebagai Bai Lian, seorang pelukis gunung yang hidup menyendiri di desa terpencil. Namun, ingatan samar tentang kehidupan lampaunya menghantuinya dalam mimpi; api, teriakan, dan wajah seorang pria dengan mata sedalam jurang. Di sisi lain, Pangeran Jun, penyebab kematian Ling Yue, bereinkarnasi menjadi seorang sarjana bernama Zhao Yi. Ia menyimpan penyesalan mendalam yang tercetak di jiwanya. Setiap kali ia memandang bunga *mei*, hatinya berdenyut nyeri, merasakan kehadiran yang hilang. Suara *guzheng* yang melantunkan melodi kesedihan selalu membawanya pada mimpi-mimpi aneh tentang seorang wanita yang menangis di balik tirai api. Suatu hari, Zhao Yi melakukan perjalanan ke desa tempat Bai Lian tinggal. Saat mata mereka bertemu, waktu seakan berhenti. Ada sesuatu yang ***FAMILIAR*** dalam tatapan itu, sebuah resonansi jiwa yang melampaui rentang kehidupan. “Siapa kamu?” tanya Zhao Yi, suaranya bergetar. Bai Lian hanya menatapnya dengan *keheningan yang menusuk*. Ia mengenali Zhao Yi, atau lebih tepatnya, ia mengenali Pangeran Jun dari masa lalunya. Rasa sakit, pengkhianatan, dan kehilangan membanjiri hatinya, namun ia tidak membiarkan satu pun emosi itu terpancar. Perlahan, misteri masa lalu mereka mulai terkuak. Bai Lian menemukan lukisan-lukisan kuno yang menggambarkan peristiwa di Istana Giok, lukisan yang disembunyikan oleh leluhurnya untuk melindunginya dari kebenaran yang mengerikan. Zhao Yi menemukan catatan harian seorang kaisar yang penuh penyesalan, mengungkapkan bagaimana ia telah dijebak untuk membunuh Ling Yue. Kebenaran itu pahit seperti empedu. Pangeran Jun, *ternyata*, tidak bersalah. Ia hanyalah korban dari intrik istana. Ia mencintai Ling Yue dengan segenap hatinya, namun terpaksa mengorbankannya demi menyelamatkan kerajaannya. Bai Lian menghadapi Zhao Yi di bawah pohon *mei* yang sedang mekar. Bunga-bunga itu berjatuhan, seolah air mata yang turun dari surga. “Kamu tidak bersalah,” kata Bai Lian, *tanpa nada*. Zhao Yi terpaku. Ia mengharapkan kemarahan, kebencian, bahkan kutukan. Namun, yang ia dapatkan hanyalah pengampunan yang sunyi. “Tapi… aku telah menyebabkan kematianmu!” seru Zhao Yi, putus asa. Bai Lian menggeleng pelan. “Dosa bukanlah milikmu untuk dipikul. Ia milik mereka yang merencanakan semuanya.” Ia kemudian berbalik, meninggalkan Zhao Yi seorang diri di bawah pohon *mei*. Balas dendam Bai Lian bukanlah amarah, melainkan keheningan. Pengampunan itu adalah *hukuman terberat*, karena ia membebaskan Zhao Yi dari rasa bersalah, namun juga merampas kesempatan untuk menebus dosa. Saat Zhao Yi menyaksikan Bai Lian menghilang di kejauhan, ia mendengar bisikan lembut yang tertinggal di angin: “…*di kehidupan selanjutnya, jangan biarkan aku mencintaimu lagi*…”
You Might Also Like: Review Rekomendasi Skincare Lokal Untuk
