Baik, ini kisah dracin tragis yang Anda minta, dengan sentuhan puitis dan misteri yang membara: **Aku Mencintaimu Sampai Akhir Dunia, Bahkan Setelah Dunia Berhenti Berputar** Angin musim gugur menyapu dedaunan maple di pelataran Kuil Bulan, tempat Lian dan Bai Chang tumbuh bersama. Mereka bukan saudara kandung, bukan pula teman biasa. Mereka adalah *sepasang naga*, terikat oleh sumpah setia di bawah naungan pohon *sakura abadi*. Lian, si ceria dengan senyum sehangat mentari, dan Bai Chang, yang dingin dengan mata setajam elang—dua kutub yang saling melengkapi, dua pedang yang diasah untuk satu tujuan: melindungi Klan Naga dari ancaman kegelapan. "Lian," bisik Bai Chang suatu malam, bulan purnama menggantung di atas mereka. "Sumpah kita… akankah ia bertahan, bahkan jika dunia ini runtuh?" Lian tertawa, renyah seperti lonceng perak. "Bodoh! Aku akan mencintaimu *sampai akhir dunia*, bahkan setelah dunia berhenti berputar. Kau adalah matahariku, Bai Chang." Tapi, mentari itu mulai meredup. Perlahan, kabut pengkhianatan menyelimuti Klan Naga. Serangan demi serangan menghantam, strategi musuh selalu selangkah lebih maju. Kecurigaan tumbuh seperti jamur di musim hujan. Siapa pengkhianat di antara mereka? Desas-desus beredar, menyebut nama Lian, si ceria yang mendadak sering menghilang. Bai Chang menolak mempercayainya. "Tidak. Lian tidak mungkin." Namun, bukti-bukti menumpuk, bagai pisau yang mengiris hatinya. Dokumen rahasia yang bocor, pertemuan gelap yang terendus, dan tatapan mata Lian yang menghindar… semuanya menunjuk ke satu arah. Suatu malam, di tengah badai salju yang mengamuk, Bai Chang menemukan Lian di perbatasan wilayah Klan, berbisik pada seorang pria berjubah hitam. "Kau…," desis Bai Chang, suaranya serak. "Kau mengkhianati kita." Lian berbalik, wajahnya pucat pasi. "Bai Chang, aku bisa menjelaskan!" "Menjelaskan apa? Bahwa semua senyummu, semua janjimu, hanyalah *kepalsuan* belaka?" Bai Chang mencabut pedangnya, *Frostbite*, yang berkilauan mematikan di bawah cahaya bulan. "Kau tahu hukuman bagi pengkhianat, Lian." "Aku melakukannya… untukmu," bisik Lian, air mata membeku di pipinya. "Untukku?" Bai Chang tertawa getir. "Omong kosong! Apa yang bisa kau lakukan untukku, selain menghancurkan segalanya?" *Pertarungan pun dimulai*. Dua naga, yang dulunya bersatu, kini saling bertarung sampai mati. Pedang beradu, kilat menyambar, dan raungan kemarahan bergema di antara pepohonan. Di tengah pertarungan, Lian akhirnya mengungkapkan kebenaran. "Mereka menyandera keluargamu, Bai Chang! Aku melakukannya untuk menyelamatkan mereka! Aku tidak punya pilihan!" Bai Chang tertegun. Keluarganya? Dia kira mereka semua sudah meninggal bertahun-tahun lalu. Ini… ini adalah **KENYATAAN** yang selama ini ia hindari. "Kau…," Bai Chang terhuyung mundur. "Kau tahu selama ini…?" Lian mengangguk, air mata mengalir deras. "Aku mencintaimu, Bai Chang. Aku tidak bisa membiarkan mereka menyakitimu." Bai Chang merasa dunianya runtuh. Dia telah menghakimi, membenci, dan hendak membunuh orang yang paling dicintainya, demi sebuah kebohongan yang ditutupi dengan kebohongan lainnya. "Maafkan aku," bisik Bai Chang, suaranya pecah. "Aku… aku tidak tahu." Lian tersenyum getir. "Terlambat, Bai Chang. Mereka akan tetap membunuhmu, setelah aku tidak berguna lagi." Bai Chang mengangkat pedangnya. Bukan untuk menyerang, melainkan untuk mengakhiri penderitaan Lian. "Aku akan membebaskanmu, Lian. Dari semua ini." Dengan satu tebasan, Bai Chang mengakhiri hidup Lian. Tubuh Lian ambruk ke pelukannya, hangat namun dingin. Bai Chang memeluknya erat, menangis sejadi-jadinya. Kebenaran terungkap, namun terlambat. Cinta yang seharusnya menjadi kekuatan mereka, justru menjadi kelemahan yang menghancurkan. Keesokan harinya, Bai Chang memimpin pasukan Klan Naga menyerbu markas musuh. Dia membalas dendam atas kematian Lian, atas semua kebohongan, atas semua pengkhianatan. Dia membantai semua yang menghalangi jalannya, matanya dipenuhi amarah dan kesedihan. Setelah semua musuh tumbang, Bai Chang berdiri di puncak menara tertinggi, menatap matahari terbit. Tubuhnya penuh luka, hatinya hancur berkeping-keping. Dia menarik napas dalam-dalam, merasakan angin dingin menusuk tulang-tulangnya. "Aku datang padamu, Lian. Tunggu aku…"
You Might Also Like: 115 Kelebihan Pelembab Skin Barrier
