Kisah Seru: Cinta Yang Menolak Dilupakan



**Cinta yang Menolak Dilupakan** Hujan. Selalu hujan di makamnya. Butiran air jatuh bagai air mata langit, membasahi nisan dingin bertuliskan nama Lin Wei. Namanya, terukir rapi di atas batu abu-abu, sama dinginnya dengan hatinya yang dulu. Atau, mungkin, sekarang. Lin Wei meninggal dalam kecelakaan tragis. Kecelakaan yang begitu tiba-tiba, merenggut nyawanya sebelum ia sempat mengucapkan *segala* yang ingin diucapkannya. Kalimat-kalimat itu menggantung di udara, menjadi beban arwahnya, membuatnya terikat pada dunia yang seharusnya sudah ia tinggalkan. Bayangan Lin Wei sering terlihat di rumah lamanya. Bukan bayangan menakutkan, melainkan sosok *sunyi*, hampir transparan. Ia berjalan tanpa suara, menyentuh perabotan yang dulu akrab di jemarinya. Cahaya rembulan menembus tubuhnya, membentuk siluet *pucat* di dinding kamar. Ia mencari sesuatu. Bukan barang berharga, bukan pula bukti perselingkuhan yang sering dibisikkan para tetangga. Ia mencari *kebenaran*. Kebenaran yang terkubur dalam diamnya. Arwah Lin Wei mendekati Li Jian, tunangannya. Li Jian kini hidup dalam kesedihan abadi, matanya redup, senyumnya hilang. Setiap malam, ia duduk di balkon, memandang langit, berharap melihat bintang yang sama dengan bintang yang dulu mereka bagi bersama. Lin Wei ingin menyentuh Li Jian, memeluknya, mengatakan betapa ia mencintainya. Namun, tangannya hanya menembus tubuh Li Jian, meninggalkan rasa dingin yang menusuk tulang. Ia *berusaha*, tapi dunia arwah dan dunia manusia dipisahkan oleh tirai yang tak tertembus. Suatu malam, Lin Wei melihat Li Jian membuka kotak tua. Kotak itu berisi surat-surat cinta mereka, foto-foto kenangan, dan sebuah _kalung perak dengan liontin berbentuk angsa_. Kalung yang dulu ia berikan pada Lin Wei sebagai tanda cinta abadi. Saat Li Jian membuka kotak itu, sebuah surat terjatuh. Surat itu ditulis oleh Lin Wei, beberapa hari sebelum kecelakaan. Surat yang tidak pernah ia kirim. Li Jian membaca surat itu. Air matanya menetes membasahi kertas. Surat itu berisi pengakuan… _bukan_ pengakuan cinta kepada orang lain, seperti yang selama ini ia khawatirkan. Melainkan, pengakuan Lin Wei tentang penyakit yang dideritanya. Penyakit jantung yang selama ini ia sembunyikan dari Li Jian, karena ia tidak ingin menjadi beban. Lin Wei di surat itu menulis, “_Aku mencintaimu lebih dari hidupku sendiri, Li Jian. Maafkan aku karena tidak jujur. Maafkan aku karena meninggalkanmu begitu cepat. Aku harap kau akan bahagia._” Lin Wei melihat Li Jian menangis tersedu-sedu. Hatinya *remuk*. Bukan karena sakit hati atau dendam, melainkan karena cinta yang begitu besar. Ia akhirnya mengerti. Ia kembali bukan untuk membalas dendam, bukan pula untuk menuntut cinta. Ia kembali untuk memastikan Li Jian tahu kebenaran. Untuk memberikan Li Jian kedamaian. Malam itu, hujan berhenti. Bulan bersinar terang. Bayangan Lin Wei perlahan memudar. Ia telah menuntaskan tugasnya. Ia telah menyampaikan kebenaran. Ia telah memberikan kedamaian. Di wajahnya, terlukis senyum tipis, _seakan ia baru saja terbebas dari beban yang selama ini menghantuinya…._
You Might Also Like: 7 Fakta Mimpi Masuk Rumah Burung Walet

Post a Comment

Previous Post Next Post