Wajib Baca! Aku Menatapmu Dari Altar, Tapi Surga Menutup Pintunya



**Aku Menatapmu dari Altar, tapi Surga Menutup Pintunya** Kabut menggantung di puncak Gunung Langya, menyelimuti Kuil Naga Emas seperti kerudung pengantin yang menyembunyikan rahasia. Lorong-lorong istana sepi, hanya bisikan angin yang mengantar gema langkah kaki. Di altar utama, di bawah patung naga emas yang agung, aku berdiri. Lima tahun. Lima tahun orang-orang meratapi kematianku. Lima tahun mereka memuja abuku di makam batu. Lima tahun aku menyaksikan, dalam *kegelapan* abadi, sandiwara yang mereka mainkan. Gaunku terbuat dari sutra merah darah, dihiasi bordiran burung phoenix yang membara. Warna yang pantas untuk pengantin, warna yang pantas untuk *pembalasan*. Di hadapanku, dia berdiri. Kaisar Li Wei, wajahnya kini dipenuhi kerutan dan bayangan penyesalan. Dulu, dia adalah kekasihku, belahan jiwaku. Dulu, dia adalah alasan aku bernapas. Sekarang? Dia hanya pion. "Xiao Yue?" Suaranya bergetar, memecah kesunyian. "Apa... apa ini nyata?" Aku tersenyum. Senyum yang *tidak* mencapai mata. "Apakah kau mengharapkan hantu, Yang Mulia? Kecewa?" "Aku... aku tidak mengerti. Pembunuh bayaran... jurang... semua bukti menunjukkan..." Aku mengangkat tangan, memotong ucapannya. "Bukti, Yang Mulia? Kau percaya pada bukti yang disuguhkan di depanmu tanpa mempertanyakannya? Naif." Kabut semakin tebal, merayap masuk ke dalam kuil, melingkari kaki kami seperti ular beludak. "Siapa yang membayarmu, Xiao Yue? Siapa yang berani mengkhianatiku?" tanyanya, suaranya meninggi, penuh amarah dan kebingungan. Aku mendekat, aroma cendana dan darah memenuhi udara di sekeliling kami. "Kau sungguh bodoh, Li Wei. Kau *percaya* aku dibunuh, kau *percaya* aku adalah korban. Kau *percaya* pada setiap kebohongan yang kubisikkan ke telingamu." Tanganku menyentuh wajahnya, sentuhan yang dulunya penuh cinta kini terasa sedingin es. "Aku merencanakan ini semua, Li Wei. *Semuanya*. Jurang, pembunuh bayaran, air mata yang kautumpahkan di makamku... semuanya adalah bagian dari orkestrasi ini." Mata Li Wei membelalak, terkejut dan penuh ketidakpercayaan. "Tapi... mengapa? Aku mencintaimu!" "Cinta? Kau tahu apa itu cinta, Li Wei? Cinta adalah kekuatan, dan aku akan menggunakannya untuk menghancurkanmu." Aku melepaskan sentuhanku, menjauh darinya. "Tahta ini, kekuasaanmu, bahkan nyawamu... semuanya akan menjadi milikku. Aku akan membangun kerajaan baru di atas reruntuhan *kerajaan cintamu*." Dia jatuh berlutut, air mata mengalir di wajahnya yang pucat. "Aku... aku tidak mengerti." Aku berbalik, menghadap patung naga emas. "Kau tidak perlu mengerti. Cukup tahu bahwa setiap detik yang kau habiskan bernapas adalah berkat belas kasihan *ku*." Udara terasa berat, dipenuhi dengan kebenaran yang pahit dan tak terhindarkan. Aku kembali menatapnya, tatapanku sedingin batu giok. "Kau pikir aku mencintaimu? Itu adalah satu-satunya kebohongan yang kubutuhkan untuk menjadikanmu *rajaku*." Dia tidak menjawab. Hanya menatapku, dengan tatapan kosong seorang pria yang baru saja kehilangan segalanya. Aku tersenyum, senyum yang penuh kemenangan dan kebenaran. Dan di saat itulah, aku menyadari: *selama ini, altar itu adalah panggungku.*
You Might Also Like: Supplier Kosmetik Tangan Pertama Usaha

Post a Comment

Previous Post Next Post