Di lembah rembulan pucat, di mana kabut berayun seperti selendang sutra yang lupa ditinggalkan dewi, hiduplah sebuah legenda. Sebuah legenda tentang cermin yang menyimpan bukan hanya bayangan, tetapi juga jiwa.
Bai Lian, demikian nama gadis itu, hidup di antara lukisan usang dan aroma tinta kuno. Rambutnya sehitam malam tanpa bintang, matanya seteduh danau yang tersembunyi di balik air terjun. Ia mencintai cermin itu, cermin warisan leluhurnya. Setiap malam, di bawah cahaya lentera yang menari-nari, ia menatap bayangannya sendiri, berharap menemukan sesuatu yang lebih.
Suatu malam, bayangan itu bergerak. Bukan pantulan dirinya, melainkan sosok pria berpakaian sutra biru langit, senyumnya semanis madu yang mengalir dari sarang tersembunyi. Ia memperkenalkan diri sebagai Lang, seorang pelukis dari dinasti yang terlupakan, terperangkap di antara waktu dan cermin.
Cinta mereka tumbuh, perlahan tapi pasti, bagaikan bunga plum yang mekar di tengah musim dingin. Bai Lian berbicara dengan Lang setiap malam, berbagi mimpi dan kerinduan. Mereka tertawa bersama, menangis bersama, meskipun terpisahkan oleh batas kaca dan dimensi.
Namun, keindahan ini menyimpan racun. Bai Lian semakin terikat pada dunia cermin, dunianya menjadi kabur dengan ilusi. Ia mulai melupakan dunia nyata, teman-temannya, bahkan namanya sendiri. Ia hanya ingin bersama Lang, di istana kristal di balik cermin, di mana waktu berhenti berdenting dan cinta abadi bersemi.
Suatu hari, Lang berkata, "Bai Lian, untuk bersamaku selamanya, kau harus melepaskan segalanya. Tinggalkan dunia fana, dan jadilah bagian dari duniaku."
Dengan hati yang berat, Bai Lian setuju. Ia melangkah maju, tangannya menyentuh permukaan dingin cermin. Saat itulah, kebenaran mengerikan terungkap.
Cermin itu bukan portal, bukan penjara bagi Lang. Itu adalah JENDELA. Sebuah jendela yang memungkinkan Bai Lian melihat ke masa lalunya sendiri. Lang bukan pelukis dari dinasti yang terlupakan, melainkan dirinya sendiri, versi laki-laki dari dirinya, seorang seniman yang bunuh diri karena cinta yang tak terbalas berabad-abad lalu. Jiwanya terpecah, menciptakan bayangan Lang yang mencoba menariknya ke dalam keputusasaan abadi.
Bayangan itu, Lang, adalah proyeksi dari kerinduan Bai Lian yang terdalam, sebuah manifestasi dari kesepian dan impian akan cinta yang sempurna. Cermin itu hanya alat, memantulkan bukan dunia lain, tetapi luka di hatinya.
Air mata mengalir di pipi Bai Lian. Ia mundur dari cermin, patah hati bukan karena kehilangan cinta, tetapi karena menyadari bahwa cinta itu tidak pernah nyata. Keindahan yang ia kejar hanyalah ilusi, sebuah jebakan yang dibuat oleh hatinya sendiri.
Di sudut ruangan, tergeletak sebuah kuas berlumuran tinta biru langit. Di sampingnya, sebuah sketsa usang, menggambarkan seorang gadis dengan rambut sehitam malam, menatap cermin dengan mata penuh harapan… sketsa itu ditandatangani: Lang.
"Apakah kau benar-benar pergi... atau kau masih di sini, menunggu?"
You Might Also Like: 128 Discover Best Pots For Gas Stoves