**Aku Menatap Langit Terbakar, Tapi Hanya Mencari Siluetmu** Aula *Keemasan* Agung menyilaukan mata. Lampu-lampu kristal bergelantungan, memantulkan cahaya ke lantai marmer yang dipoles hingga berkilau. Aroma dupa cendana dan wewangian mahal bercampur dengan getirnya intrik yang menguar di udara. Di sinilah, di jantung istana megah Dinasti Mingyue, kekuasaan diperebutkan, kesetiaan diuji, dan cinta dikorbankan. Putri Mahkota Lian, dengan gaun sutra merah menyala yang menjuntai anggun, berdiri tegak. Namun, matanya yang biasanya berbinar kini redup, menatap langit senja yang membara di balik jendela raksasa. Warna merahnya seolah meniru darah yang sebentar lagi akan menetes. "Langit terbakar," bisiknya pelan, nyaris tak terdengar di tengah hiruk pikuk para pejabat yang berbisik-bisik dan saling sikut untuk mendapatkan perhatian Kaisar. Tapi, Lian tidak melihat kobaran api di langit. Ia hanya mencari *siluetnya*. Pangeran Rui, adik Kaisar yang gagah berani dan penuh kharisma. Mata elangnya selalu mengawasi istana, siap menerkam setiap kesempatan. Dulu, mata itu hanya menatap Lian dengan **cinta**, kini, ia hanya melihat *kekuatan*. "Kakak," sapa Rui, suaranya rendah dan berat, menembus kebisingan aula. Lian berbalik, hatinya berdebar tak menentu. Dulu, suara itu membuatnya merasa aman, kini, suara itu seperti ancaman yang tersembunyi. "Rui," balas Lian, berusaha menyembunyikan gemetar di suaranya. Hubungan mereka adalah *benang tipis* yang membentang di antara cinta dan kekuasaan. Lian mencintai Rui dengan sepenuh hati, percaya bahwa cintanya bisa menjadi kekuatan yang bisa menyatukan dinasti yang terpecah belah. Namun, Rui... Rui menginginkan *takhta*. Dan Lian, sebagai pewaris sah takhta, adalah rintangan baginya. "Kudengar Ayahanda akan segera mengumumkan penggantinya," kata Rui, tatapannya tajam menusuk. "Kau... siap, Kakak?" Lian menggigit bibir bawahnya. Ia tahu apa yang diinginkan Rui. Ia tahu bahwa setiap janji manis yang diucapkan Rui adalah pedang yang siap menusuk jantungnya. Cinta mereka adalah permainan takhta yang mematikan. Malam-malam berlalu dengan intrik yang semakin menjadi-jadi. Bisikan pengkhianatan di balik tirai sutra, janji-janji palsu yang diucapkan di depan altar, dan darah yang diam-diam menodai lantai marmer. Lian, yang dulunya adalah Putri Mahkota yang penuh kasih, kini berubah menjadi *ratu* yang dingin dan perhitungan. Ia belajar bermain dalam permainan yang sama kejamnya. Pada malam penobatan, ketika Rui bersiap untuk merebut takhta dengan paksa, Lian memberikan kejutan terakhirnya. Dengan senyum yang dingin dan mematikan, ia membeberkan semua pengkhianatan Rui di hadapan Kaisar dan seluruh istana. Rahasia-rahasia yang selama ini dikubur dalam-dalam terungkap satu per satu, menghancurkan reputasi Rui dan membawanya pada kehancuran. Rui menatap Lian dengan mata penuh kebencian dan pengkhianatan. "Kau... *jalang*!" Lian hanya tersenyum. Balas dendam yang selama ini ia rencanakan akhirnya terwujud. Ia mungkin kehilangan cintanya, tapi ia mendapatkan *kekuasaannya* kembali. Ia membuktikan bahwa pihak yang dianggap lemah bisa menjadi yang paling berbahaya. Kaisar, dengan berat hati, akhirnya menunjuk Lian sebagai penggantinya. Lian melangkah maju, mengangkat jubah kebesarannya, dan duduk di singgasana. Ia menatap langit yang kini gelap gulita, tanpa secercah pun cahaya. Dan kemudian, dengan suara dingin dan tegas, ia mengumumkan: "*Dinasti Mingyue akan dibangun di atas abu cintamu, Rui.*" Sejarah baru saja menulis ulang dirinya sendiri, dan tinta yang digunakan adalah darah dan air mata.
You Might Also Like: 7 Fakta Tafsir Digigit Kura Kura Air
