TOP! Kau Menatapku Di Atas Altar, Dan Aku Tahu Ini Cinta Terakhir



Kau Menatapku di Atas Altar, dan Aku Tahu Ini Cinta Terakhir

Kabut menggantung seperti tirai sutra abu-abu di lembah Gunung Jiufen. Angin dingin menusuk tulang, membawa serta bisikan-bisikan aneh dari masa lalu. Di puncak gunung, berdiri megah sebuah kuil tua, altar batu putihnya tampak berkilau aneh di tengah kegelapan.

Lima tahun lalu, di tempat ini, Li Wei menghilang. Semua orang mengira dia tewas akibat longsor dahsyat. Hanya Lin Mei, tunangannya, yang menolak percaya. Setiap hari, dia datang ke kuil, berdoa dengan air mata yang tak pernah kering.

Malam ini, penantiannya berakhir.

Dari balik pilar batu, muncul siluet seorang pria. Wajahnya sedikit berbeda, lebih dewasa, lebih keras, namun Lin Mei mengenalinya. Itu Li Wei.

"Li Wei?" bisik Lin Mei, suaranya bergetar.

Li Wei melangkah mendekat. Cahaya obor di altar menari-nari di wajahnya, menampakkan luka samar di pelipisnya. "Lama tidak bertemu, Mei." Suaranya lembut, namun ada sesuatu yang dingin di baliknya.

Lin Mei berlari memeluknya, erat. "Kau kembali! Aku tahu kau akan kembali!"

Li Wei membalas pelukannya, namun tidak seerat yang diinginkan Lin Mei. "Aku kembali untuk menjelaskan semuanya."

Mereka duduk di depan altar. Udara terasa berat, penuh dengan rahasia yang belum terungkap.

"Lima tahun lalu," Li Wei memulai, "longsor itu bukan kecelakaan. Itu dirancang."

Lin Mei menatapnya, bingung. "Dirancang? Oleh siapa?"

Li Wei tersenyum tipis, senyum yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. "Olehku."

Lin Mei terkesiap. "Tapi... mengapa?"

"Karena aku membutuhkanmu untuk percaya bahwa aku mati," jawab Li Wei, matanya berkilat aneh. "Aku membutuhkanmu untuk meratapi kehilanganku, untuk mencintaiku lebih dari dirimu sendiri."

Lin Mei mundur, ketakutan mulai merayap di hatinya. "Apa maksudmu?"

"Kau tahu, Mei, ayahmu sangat berkuasa. Terlalu berkuasa. Aku membutuhkan kekuatan itu, kendali atas segalanya. Dan satu-satunya cara untuk mendapatkannya adalah melalui kau."

"Kau... mencintaiku?" Lin Mei bertanya, suaranya nyaris tak terdengar.

Li Wei tertawa pelan. "Cinta? Cinta hanyalah alat, Mei. Sebuah cara untuk mencapai tujuan. Dan kau, sayangku, adalah alat yang sempurna."

Lin Mei merasakan dunianya runtuh. Semua keyakinannya, semua cintanya, hancur berkeping-keping di depan matanya.

"Aku memanipulasi longsor itu," Li Wei melanjutkan, suaranya datar. "Aku memanipulasi kematianku. Aku memanipulasi kau untuk mencintaiku. Dan sekarang, akhirnya, aku mendapatkan apa yang aku inginkan."

Dia berdiri, menatap Lin Mei dengan dingin. "Kau tahu, aku selalu mengagumi ketegaranmu. Kau pantang menyerah mencintaiku. Kau membuktikan, bahwa cinta itu sangat membutakan."

Lin Mei menatapnya, air mata membasahi pipinya. "Kau... monster."

Li Wei tersenyum lagi, senyum menang. "Mungkin. Tapi kau, sayangku, yang menciptakan monster ini. Dengan cintamu."

Dia mengangkat tangannya, memberi isyarat pada dua pria yang muncul dari balik pilar. Mereka membawa Lin Mei, yang tidak melawan, ke tepi tebing.

"Selamat tinggal, Mei," kata Li Wei, suaranya lembut. "Terima kasih atas segalanya."

Lin Mei menatapnya untuk terakhir kalinya. Lalu, senyum tipis menghiasi bibirnya. "Kau salah, Li Wei. Kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan."

Sebelum Li Wei sempat bereaksi, Lin Mei melompat dari tebing. Angin membawa jeritannya, namun yang terdengar oleh Li Wei adalah tawa dingin yang menusuk hatinya.

Di atas altar batu putih, sebuah gulungan terungkap. Di atasnya tertulis sebuah wasiat yang mengubah segalanya. Kekayaan dan kekuasaan ayahnya, yang ia rencanakan rebut dengan menikahi Lin Mei, sekarang beralih pada yayasan amal atas nama Lin Mei sendiri.

Lin Mei memang mencintainya, tetapi dia tidak sebodoh itu. Dia telah tahu segalanya. Dia tahu bahwa Li Wei akan kembali, dan dia telah merencanakan ini sejak lama.

Kata-kata terakhir Lin Mei terngiang di benaknya: "Kau salah, Li Wei. Kau tidak mendapatkan apa yang kau inginkan." Bukan cinta yang membutakan, namun rasa lapar akan kekuasaan yang akhirnya menelanjangi kebenaran: terkadang, kematian hanyalah sebuah pertunjukan.

You Might Also Like: Reseller Skincare Bimbingan Bisnis

Post a Comment

Previous Post Next Post