Drama Baru! Janji Yang Tertulis Di Atas Luka



Baiklah, inilah kisah dracin intens berjudul 'Janji yang Tertulis di Atas Luka', dengan nuansa yang Anda inginkan: **Janji yang Tertulis di Atas Luka** Malam di Pegunungan Salju Giok menggigit tulang. Udara dingin menusuk, membawa serta aroma dupa cendana yang terbakar di kuil terpencil. Di tengah salju yang memutih, darah merah *mengotori* kesuciannya. Di sana, di ambang kuil yang remuk, berdirilah Mei Lien. Wajahnya pucat pasi, diterangi remang lilin yang menari-nari. Di hadapannya, berlututlah Jian, tubuhnya penuh luka, pandangannya kosong. Dulu, mereka adalah sepasang kekasih. Cinta mereka, sehangat anggur beras di musim dingin, seindah lukisan kaligrafi di atas sutra. Tapi itu dulu. Sekarang, cinta itu telah menjadi bara api yang membakar habis segalanya, menyisakan hanya abu dan dendam. "Kau... *kau* yang membunuh ayahku," bisik Mei Lien, suaranya serak dan bergetar. Air matanya membeku di pipi, membentuk jalur es yang menyakitkan. Jian tidak menjawab. Matanya terpaku pada salju di bawahnya, seolah mencari jawaban di sana. Dulu, ayahnya, seorang jenderal besar, telah menerima Jian sebagai murid kesayangan. Dulu, Mei Lien dan Jian bermimpi membangun masa depan bersama, di bawah naungan pohon sakura yang bermekaran. Tapi **SEGALANYA BERUBAH** malam itu. Malam pengkhianatan. Malam pembunuhan. "Aku bersumpah, Jian. Aku bersumpah di depan arwah ayahku, aku akan membalas dendam," ucap Mei Lien, mengangkat pedang pusaka keluarganya. Kilau perak pedang itu memantulkan api lilin, menari-nari seperti iblis yang haus darah. Jian mendongak. Ada kesedihan yang tak terkatakan di matanya. "Lakukanlah, Mei Lien. Kau pantas melakukannya." Malam itu, rahasia lama terungkap. Kebenaran yang selama ini disembunyikan dalam bayang-bayang istana, akhirnya terbongkar. Ayah Mei Lien, sang jenderal besar, ternyata terlibat dalam konspirasi keji yang mengancam stabilitas kekaisaran. Jian, yang mengetahui kebenaran itu, terpaksa membela negara. Sebuah pilihan yang merenggut segalanya. Darah kembali mengalir di atas salju. Tapi kali ini, bukan hanya darah Jian. Mei Lien ikut terluka. Bukan luka fisik, melainkan luka di hati. Luka yang menganga lebar, takkan pernah sembuh. Beberapa tahun kemudian. Mei Lien, kini dikenal sebagai *Ratu Bayangan*, sosok yang disegani dan ditakuti di seluruh kekaisaran. Ia membangun kekuatannya dari abu masa lalu, dari dendam yang membara di dadanya. Ia merebut kekuasaan, menggulingkan para pengkhianat, dan memulihkan keadilan. Di istana, di singgasana yang terbuat dari gading gajah, ia duduk sendirian. Tangannya menggenggam cangkir teh porselen yang hangat. Aroma melati memenuhi ruangan. Di hadapannya, berdiri seorang pria. Jian. "Kau datang juga akhirnya," kata Mei Lien, tanpa menoleh. "Aku tahu kau akan memanggilku," jawab Jian, suaranya tenang. "Dulu, aku berjanji akan membalas dendam. Sekarang, janji itu harus ditepati," bisik Mei Lien. Dengan gerakan anggun, Mei Lien menuangkan racun ke dalam cangkir teh. Aroma melati tidak mampu menyembunyikan bau pahit yang mematikan. Jian menerima cangkir itu tanpa ragu, lalu meminumnya hingga tandas. Tidak ada teriakan. Tidak ada rintihan. Hanya keheningan yang mencekam. Jian jatuh berlutut, lalu ambruk ke lantai. Mei Lien akhirnya berbalik. Air matanya mengalir, tak terbendung lagi. "Balas dendam ini... tidak membuatku merasa lebih baik," bisiknya, pilu. Ia telah membalas dendam. Tapi harga yang harus dibayarnya, terlalu mahal. Hatinya telah mati, terkubur di bawah salju dan abu. Di akhirat sana, apakah mereka akan bertemu lagi? Apakah cinta mereka akan bersemi kembali di tengah taman abadi? Itu adalah pertanyaan yang takkan pernah terjawab. Malam semakin larut, menyelimuti istana dengan kegelapan yang abadi, menyisakan aroma melati dan janji yang tak mungkin ditepati. *Dan bayangan Jian, masih menghantuinya... selamanya.*
You Might Also Like: Discover Mesa Campus Your Destination

Post a Comment

Previous Post Next Post