Dracin Terbaru: Tangisan Di Balik Mahkota Yang Retak



Tangisan di Balik Mahkota yang Retak

Seratus tahun. Satu abad berlalu sejak darah membasahi teratai putih di taman istana Kekaisaran Azure. Seratus tahun sejak janji diucapkan di bawah rembulan berdarah, janji yang mengikat dua jiwa melintasi samudra waktu.

Kini, di era modern, reinkarnasi mereka bersemi.

Dia, Bai Lian, seorang seniman kaligrafi yang hidup menyendiri, dihantui mimpi-mimpi aneh tentang intrik istana dan seorang kaisar yang kesepian. Setiap goresan kuasnya seolah menari mengikuti alunan melodi yang tak asing, melodi kesedihan yang mendalam.

Dia, Pangeran Mahkota Li Wei, pewaris tahta Grup Li yang berpengaruh, memiliki aura dingin dan tatapan yang menyimpan rahasia. Setiap langkahnya diikuti bayangan masa lalu, aroma dupa sandalwood dan bisikan kata-kata yang terlupakan.

Pertemuan mereka terasa seperti takdir. Di sebuah galeri seni yang remang-remang, mata mereka bertemu. Sebuah getaran aneh menjalar di tubuh Bai Lian, membuatnya merasa seolah mengenal Li Wei seumur hidupnya. Li Wei, di sisi lain, merasa jantungnya berdegup kencang, sebuah deja vu yang membingungkan.

"Suara...suara itu..." gumam Li Wei pelan, nyaris tak terdengar. "Aku...seperti pernah mendengarnya."

Bunga kamelia putih selalu bermekaran di taman Bai Lian, bunga yang sama yang dahulu tumbuh di taman istana Kaisar. Aroma mereka membangkitkan kenangan samar: tawa, tangis, pengkhianatan, dan... cinta yang terlarang.

Li Wei mulai mencari tahu tentang mimpi-mimpi aneh yang menghantuinya. Ia menemukan catatan-catatan kuno tentang Kaisar Azure yang tragis, tentang permaisuri kesayangannya yang difitnah dan dihukum mati karena pengkhianatan. Ia menemukan KEBENARAN yang terkubur dalam sejarah.

Bai Lian, di bawah pengaruh mimpi-mimpinya, tanpa sadar menciptakan kaligrafi yang menceritakan kisah masa lalu mereka. Setiap aksara, setiap tinta, adalah rekaman dari tragedi yang menimpa mereka.

Misteri masa lalu terkuak perlahan. Permaisuri, yang dulunya bernama Mei Ling, tidak bersalah. Ia dijebak oleh selir licik yang menginginkan tahta. Kaisar, yang kini bereinkarnasi sebagai Li Wei, telah dibutakan oleh ambisi dan kesalahpahaman, sehingga ia menghukum mati wanita yang dicintainya.

Ketika Li Wei menyadari kebenaran pahit ini, ia dilanda penyesalan yang mendalam. Ia ingin meminta maaf, memohon ampun atas dosa-dosa leluhurnya.

Namun, Bai Lian tidak menuntut balas dendam dengan kemarahan. Ia memilih keheningan. Keheningan yang lebih menyakitkan daripada ribuan kata kutukan. Ia memaafkan Li Wei, bukan karena ia pantas dimaafkan, tapi karena ia tahu bahwa dendam hanya akan mengulang siklus tragedi.

Ia membiarkan Li Wei merasakan beban penyesalan seumur hidupnya. Pengampunan Bai Lian adalah hukuman yang paling berat. Ia membiarkan Li Wei hidup dengan bayangan Mei Ling, dengan bisikan penyesalan yang tak pernah hilang.

Di bawah rembulan pucat, Bai Lian menatap langit. Matanya berkaca-kaca, namun bibirnya tersenyum tipis.

"Mungkin... di kehidupan selanjutnya..." bisiknya, seolah menyampaikan pesan kepada jiwa yang telah lama terpisah. Akankah mereka menemukan kedamaian?

You Might Also Like: 119 Inspirasi Moisturizer Tamarind

Post a Comment

Previous Post Next Post