Baiklah, inilah kisah dracin pendek yang Anda inginkan: **Cinta yang Menjadi Awal Perang** Lorong-lorong Istana Timur membentang sunyi, diselimuti keheningan yang lebih memekakkan daripada dentang pedang. Aroma cendana dan kebusukan samar bercampur, menciptakan wewangian aneh yang menusuk hidung. Di sanalah, berdiri tegak seorang pria. Jubahnya kelam, menyerap cahaya rembulan yang mengintip dari celah genteng. Wajahnya, meskipun pucat, menyimpan ketampanan yang dulu membuat para putri bertekuk lutut. Pangeran Lian, sang pewaris tahta yang *dulu* dianggap mati di medan perang tujuh tahun silam. Kabut menggantung tebal di Pegunungan Seribu Angin, menyembunyikan rahasia yang lebih gelap dari malam itu sendiri. Tujuh tahun lalu, Pangeran Lian menghilang di sana, terkhianati dan ditinggalkan untuk mati. Tapi ia kembali. Bukan sebagai Pangeran Lian yang dulu, melainkan sebagai *bayangan* yang haus akan keadilan... atau mungkin, pembalasan. Ia menemukan Putri Meilin di taman belakang, di bawah pohon persik yang sedang bermekaran. Bunga-bunga itu jatuh seperti air mata, menutupi tanah dengan warna merah muda yang rapuh. "Meilin," bisik Pangeran Lian, suaranya serak, nyaris tak terdengar. Putri Meilin berbalik, matanya melebar. Ia mengenakan gaun putih polos, tanpa hiasan. Kesederhanaan itu tak menutupi kecantikannya, namun justru menonjolkannya. "Lian?" bisiknya, bibirnya bergetar. "Kau... kau kembali?" "Kembali untuk mencari jawaban," jawab Pangeran Lian, melangkah mendekat. Setiap langkahnya berat, dipenuhi beban masa lalu. "Mengapa aku ditinggalkan, Meilin? Mengapa?" Putri Meilin menunduk. "Perintah dari Kaisar," lirihnya. "Negara membutuhkanmu untuk mati. Kehadiranmu... *mengancam*." "Mengancam?" Pangeran Lian tertawa hambar. "Mengancam siapa? Mengancam kekuasaan Kaisar?" "Lebih dari itu," jawab Putri Meilin, mengangkat wajahnya. Matanya berkilat, bukan dengan air mata, melainkan dengan tekad yang membara. "Mengancam rencana yang sudah *kurancang* sejak lama." Pangeran Lian terdiam. Kebenaran itu menyengat, lebih dingin dari pedang. Ia melihat kilatan kemenangan di mata Putri Meilin. Ia, yang dianggap sebagai korban, ternyata hanyalah bidak dalam permainan yang jauh lebih besar. "Kau..." desisnya, napasnya tercekat. Putri Meilin tersenyum. Senyum yang indah, namun mematikan. "Aku yang menjebakmu di Pegunungan Seribu Angin, Lian. Aku yang memastikan semua saksi bisu." "Demi apa?!" "Demi kekuasaan. Demi dunia yang *layak* untuk diperintah. Dan kau, Lian, selalu menghalangi jalanku." Pangeran Lian mundur selangkah. Semua kepingan puzzle jatuh pada tempatnya. Cinta yang dulu ia agungkan, kini hanyalah awal dari sebuah *perang*. Sebuah perang yang ia tidak sadari telah ia mainkan sejak lama. Putri Meilin melangkah mendekat, tangannya meraih pipi Pangeran Lian. Sentuhannya dingin, tidak mencerminkan kehangatan yang dulu pernah ada. "Aku mencintaimu, Lian," bisiknya. "Karena itulah, aku tidak punya pilihan." Pangeran Lian menatap mata Putri Meilin, mencari jejak penyesalan. Tapi yang ia temukan hanyalah **kekosongan**. *Dialah dalangnya. Selalu.*
You Might Also Like: Peluang Bisnis Skincare Modal Kecil
