Hujan selalu menari di atas nisan marmer itu, setiap tetesnya seperti bisikan yang tak pernah sampai. Lin Yi, gadis yang mati sebelum senja menjemput, kembali. Bukan sebagai manusia, melainkan sebagai roh. Bayangan pucat yang menolak pergi, terikat pada dunia yang dulu ia pijak dengan janji yang belum terucap.
Dunia arwah adalah keheningan. Warna-warna redup, suara-suara teredam, kecuali deru angin yang menyayat kalbu. Di sana, Lin Yi mendengar rintihan jiwa-jiwa yang tersesat, yang menyesal karena kata-kata yang tak terucap, cinta yang tak terbalas, dan kebenaran yang terkubur bersama mereka.
Ia ingat malam itu. Malam ketika kata-kata terakhirnya tercekat di tenggorokan, ketika matanya menangkap pengkhianatan, ketika jiwanya berteriak namun raganya membisu. Kematian datang begitu cepat, merenggutnya sebelum ia sempat mengatakan... segalanya.
Kini, ia kembali. Bukan untuk membalas dendam, meskipun amarah itu membara dalam dadanya. Bukan untuk menghantui mereka yang bersalah, meskipun keadilan terasa begitu jauh. Lin Yi kembali untuk KEDAMAIAN. Untuk menuntaskan janji pada dirinya sendiri.
Ia mengikuti jejak-jejak kenangan. Rumahnya, yang kini terasa asing. Taman tempat ia dan kekasihnya tertawa. Kafe tempat ia merencanakan masa depan. Setiap sudut menyimpan sisa-sisa hidupnya, hantu-hantu kecil yang menyakitkan namun juga menenangkan.
Ia melihat orang-orang yang dulu mengisi harinya. Kekasihnya, yang kini hidup dalam penyesalan. Sahabatnya, yang menyimpan rahasia kelam. Keluarganya, yang terluka karena kehilangan. Lin Yi, sebagai roh, melihat segalanya dengan lebih jelas.
Ia berusaha berkomunikasi, menyentuh, memberikan petunjuk. Tetapi, dunia hidup dan arwah terpisah oleh tirai yang tak tertembus. Ia hanya bisa membisikkan kata-kata yang tak terdengar, mengirimkan isyarat yang tak terdeteksi.
Akhirnya, ia menemukan apa yang ia cari. Bukan bukti pengkhianatan, bukan permintaan maaf yang terlambat. Melainkan, sepucuk surat. Surat yang ia tulis untuk dirinya sendiri, yang ia sembunyikan di bawah lantai kamarnya.
Surat itu berisi pengakuan cinta yang tulus, impian-impian yang tinggi, dan keyakinan bahwa cinta akan membebaskannya dari segala ketakutan. Membaca surat itu, Lin Yi merasakan kehangatan menjalar ke seluruh jiwanya. Ia mengerti. Ia tak perlu lagi mencari kebenaran dari dunia luar. Kebenaran itu ada di dalam dirinya sendiri.
Lin Yi melihat hujan mulai mereda. Bayangan yang menolak pergi perlahan memudar. Ia tahu, waktunya telah tiba. Kedamaian akhirnya datang, bukan sebagai balas dendam, melainkan sebagai penerimaan.
Ia membisikkan satu kalimat terakhir, sebuah pengakuan yang terlambat namun begitu berarti: "Aku... akhirnya..."
You Might Also Like: Fakta Menarik Moisturizer Lokal Untuk